You are looking at posts that were written in the month of March in the year 2006.
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Feb | Apr » | |||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | ||
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (AL BAQARAH ayat 164)
Entah sudah berapa lama aku mencintai langit… Langit yang senantiasa memayungiku dengan kokoh.
Entah sudah berapa kali saja langit mampu menghibur kegundahan dan kesedihan hatiku… dengan pelangi dan bebintang
Entah berapa kali juga langit mampu membangkitkan inspirasiku… membantuku menjawab pertanyaan yang lalu lalang dalam pikiranku, bahkan terkadang saat menjawab soal ujian.
Entah Berapa kali pula langit membuatku menangis, menghalangi langkahku… menghentikan kepergianku…
hari ini entah sudah berapa banyak peristiwa yang terjadi atasku yang disaksikan langit…
entahlah…
ya… langit adalah sesuatu yang amat kukagumi, sesuatu yang selalu membuatku menemukan inspirasi. Birunya langit membuatku mantap menapaki jalan kehidupan, membuatku tenang memandang hidup.
Luasnya Langit… menginspirasiku untuk meluaskan wawasanku, pikiran dan hatiku.
Warna Jingganya kala sore mengajarkanku bahwa hidup itu pasti berubah. tidak selamanya biru.
merahnya Langit pagi… membuatku berani menghadapi hari.
kala malam datang dan langit mulai kelam.. ada bebintang disana yang setia menghiasinya dengan indah. mengajariku bahwa dalam situasi sekelam langit malam… ada hal-hal indah yang tetap bisa kita nikmati.
saat mendung menyelimuti, langit tetap tampak kokoh dan gagah. dan setelah hujan turun… langit justru menjadi semakin indah. Bahkan terkadang tak segan menghadiahkan pelangi indah. jembatan para bidadari.
Gumpalan awan putih yang menutupi langit suatu waktu, tetap tidak menghalangi langit menunjukkan keindahannya. Awan bukanlah habtan bagi langutm atau bahkan pesaing bagi keberadaannya, justru semakin membuatnya tampak indah
ya… langit telah mengajarkanku banyak hal. menjadikanku lebih dewasa memandang semua hal. menjadi saksi perjalanan hidupku, menjadi inspirasiku. ya… tulisan ini pun diinspirasi olehnya. oleh langit.
betapa agung ciptaan Alloh,
untuk mengagumi kebesaran-Nya yang ciptaan-Nya selalu menginspirasi.
Pagi ini disaat sedang disibukan dengan tugas kuliah, tiba-tiba terdengar deringan ponselku tanda ada SMS yang masuk. Berharap SMS dari adikku segera saja kubuka SMS tersebut. Tarnyata yang mengirim adalah teman yang sudah begitu lama tidak pernah berkirim kabar. Senang sekali rasanya ada kontak kembali dengannya. segera saja kubaca SMS tersebut.
SMS tersebut diawali dengan kalimat "Innalillahi wa Innailaihi rojiun", begitu membaca klaimat pertama ini langsung terbersit bahwa ini berita duka, pasti ada yang meninggal dunia. Benar saja, kalimat selanjutnya mengabarkan bahwa Ayah seorang teman SMA meninggal dunia tadi malam dan akan di kebumikan hari ini.
Hm… Maut memang tidak pernah pandang waktu, kapan pun ia bisa datang. Datang kepada siapa saja yang diingini. Mungkin sebentar lagi maut akan segera datang menjemputku, kamu, tetanggaku, temanku atau siapapun didunia ini. Karena maut adalah suatu kepastian sekalipun datangnya tidak bisa dipastikan. Ketidak pastian kapan Maut menjemput tidak kemudian membuat kita melupakan maut, justru memacu kita agar siap menghadapinya. Tanpa tau kapan maut datang, membuat kita mesti siap setiap saat. Bersiap dengan bekalan yang cukup untuk menhadap-Nya, dan siap untuk meninggalkan semua yang ada di dunia.
nah.. sudahkah kita bersiap menhadapi maut yang tak bisa diprediksi kedatangnnya??
Hari libur adalah saat bagiku untk mengistirahatkan diri dan membereskan barang-barang dikamarku. Minggu ini aktifitas yang selalu kutunggu saat senggang kembali kulakukan, bongkar-bongkar barang di kamar. Tanpa Sengaja kutemukan kembali surat dari bapak yang dikirim hampir 3 tahun lalu. Ya.. surat yang dikirim sebulan setelah aku meninggalkan rumah untuk kuliah di Bandung. Kembali ku baca surat itu kuselami tiap kata yang digoreskan bapakku dengan pulpen tintanya. Terasa sekali betapa bapak begitu menyayangiku.
Saat ku baca surat itu, aku menyadari bahwa tiap kalimat yang ditulisakn bapakku penuh makna dan pengharapan. Berisi nasihat-nasihat bagi anaknya yang kini tengah berada di tanah orang dan jauh dari rumah. kalimat demi kalimat ku baca hingga akhirnya ku tiba pada pertengahan surat itu. Ada tiga kata yang dituliskan bapakku yang nampak sederhana namun penuh makna "Clatu, Laku, Tinemu". Tiga kata dalam bahasa jawa, bahasa sehari-hariku dirumah, yang dituliskan bapak untuk pegangan bagiku dalam mejalani kehidupan sosialku di tempat yang baru. Bapak berkata 3 hal ini harus dijaga, dan ku harus sangat berhati-hati dengan tiga hal ini. Karena manusia salah satunya dinilai dari orang lain dari 3 hal ini.
Clatu…
Aku memaknai kata ini sebagai ucapan, tutur bahasa, kata-kata, lisan. Dalam kehidupan sosial, pergaulan, hal ini memnag sangat penting sekali dijaga. hingga ada istilah "mulutmu Harimaumu", yang berarti bahwa jika tidak berhati-hati menjaga Clatu, maka akan berbahaya sekali. sering kita temui hubungan baik, persahbatan dan sejenisnya rusak hanya gara-gara Clatu yang tak terjaga. Atau bahkan dalam kondisi yang lebih parah lagi Clatu yang tidak dijaga dapat membawa kita pada kehinaan, dihadapan manusia atau Rob-nya.
Laku…
Kata yang ku pahami sebagai perbuatan, tingkah laku, tindakan. Ini juga merupakan hal yang penting sekali untuk dijaga. Jangan Sampai perbuatan kita menyakiti dan merugikan orang lain. Atau bahkan merugikan diri sendiri. Atau dalam hal ini berarti berbuat, bertingkah laku sesuai koridor yang ada. menjadi manusia berakhlak kira-kira demikian maksudnya.
Tinemu…
pendapat, pemikiran, argumen kira-kira demikian makna kata ini. Berhati-hati menjaganya bukan berarti mengekang kebebasan berpendapat, kebebasan berpikir, tapi lebih pada upaya menjaganya hingga tidak merugikan orang lain yang kemudian berimbas pada diri sendiri. Atau menurutku Tinemu ini harus tetap pada jalur yang semestinya, kebenaran. berpendapatlah dengan benar, Berpikirlah untuk kebennaran kira-kira demikian.
Clatu, Laku, Tinemu…
Tiga kata yang mudah, sederhana namun sarat makna. Apa yang ku tuliskan sebenarnya belum cukup untuk menjelaskan kedalaman makna tiga kata diatas. Belum cukup menggambarkan betapa Clatu, Laku, dan Tinemu begitu punya peranan dalam kehidupan sosial. Banyak Sekali yang bisa digali dari tiga kata diatas. Kata-kata yang kukuti[p dari surat Bapak untuk anak yang selalu dikhawatirkannya.
Jatinangor, 8 maret 2006
disela kerinduanku akan Keraba dan Kampung Halaman.
Bebarapa hari lalu, saya baru saja berjumpa kembali dengan teman yang beberapa saat lalu tidak pernah berjumpa apalagi untuk berbicang bahkan berdiskusi. Pertemuan kali ini memang telah direncanakan sebelumnya. Karena lama tidak bertemu, maka benyak sekali topik yang diperbincangkan, selama terlibat pembicaraan bebrapa kali kami saling beradu pendapat dan bahkan bersilang pendapat. Tiba pada bagian penting dari pembicaraan kami, argumen-argumen mulai bersliweran dengan cepatnya, semua merasa benar dengan argumennya dan tidak ingin mengalah satu sama lain. Logika-logika untuk mendukung pendapat masing-masing diungkapkan agar dapat memperoleh pengakuan dari lawan bicara bahwa yang dikemukakan adalah benar. Hingga saat kami harus mengakhiri pembicaraan tersebut, karena keterbatasan waktu, pembicaraan kami belum mengarah pada suatu kesimpulan bersama.
Kondisi diatas mungkin sering kali kita temui dalam kehidupan kita, merasa bahwa dirinya selalu benar dan pendapat yang dikemukakanlah yang benar tanpa mau perduli bahwa pendapat orang lainpun tidak salah. Terkadang kita tidak cukup berani mengakui bahwa memang pendapat orang lain tersebut benar. Ego terlalu besar untuk mengakui kebenaran diatas sesuatu yang kita yakini sekalipun keyakinan itu belum tentu benar. Malah sibuk mendebat kebenaran itu dengan berbagai argumen yang pada akhirnya hanya berujung pada diskusi kusir belaka.