You are looking at posts that were written in the month of June in the year 2006.
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « May | Jul » | |||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | |||
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | ||
artikel ini temukan saat igintahu banyak tentang Radang Usus. Ku berterimakasih pada oarang yang telah menemukan penyebab penyakit ini yang sesungguhnya. walaupun akhirnya aku harus menelan antibiotik yang gede-gede untuk mengatasi radang ususku.
Bakteri Pemicu Tukak Lambung
Sampai awal tahun 80-an, para dokter tetap teguh memegang dogma bahwa penyakit tukak lambung atau radang usus terutama disebabkan stress dan gaya hidup. Kini terbukti, penyebab utama tukak lambung dan radang usus adalah oleh bakteri.
Dengan menganut dogma, pemicu tukak lambung adalah stress, maka terapi pengobatannya adalah dengan cara menetralkan cairan asam lambung. Bahkan banyak penderita tukak lambung yang harus menjalani tindak operasi.
Sulitnya Merubah Sebuah Dogma
Dogma itu tidak berubah banyak, sampai pada tahun 1982 lalu ketika dua orang dokter dari rumah sakit umum di kota Perth Australia, yakni Barry Marshall dan Robin Warren mengumumkan hasil penemuannya. Disebutkan, tukak lambung dan radang usus terutama disebabkan oleh serangan bakteri bernama ‘Helicobacter pylori’. Akan tetapi teori baru itu banyak yang dicemooh atau ditertawakan. Tidak semua dokter dapat langsung menerima teori baru, menggantikan dogma yang sudah mengakar.
Dogma Baru, Helicobacter Pylori
Perjalanan waktu membuktikan, penemuan dua dokter yang tidak didukung peralatan penelitian canggih itu, memang tepat. Sekarang diakui, sekitar 90 persen kasus tukak lambung dan 80 persen kasus radang usus duabelas jari disebabkan serangan Helicobacter pylori. Dengan dikukuhkannya dogma baru, yang meruntuhkan dogma lama mengenai tukak lambung, metode pengobatannya juga berubah drastis.
Nobel Bagi Penemuan Tak Diduga
Berdasarkan prestasinya dalam menemukan penyebab penyakit tukak lambung, kedua dokter dari Australia itu, Marshall dan Warren dianugerahi hadiah Nobel Kedokteran tahun 2005 ini. Sebagai alasannya, Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia menyebutkan, penghargaan diberikan untuk penemuan yang sangat menonjol dan tidak diduga, mengenai peranan bakteri Helicobacter pylori dalam memicu tukak lambung. Memang beralasan, bahwa hadiahnya diberikan secara tidak terduga. Sebab kedua dokter dari Australia itu sebelumnya dipandang remeh dan relatif tidak dikenal.
Cara Pengobatan Berubah
Hadiah Nobel kedokteran bagi Marshall dan Warren membuka mata semua orang, bahwa penemuan besar dapat terjadi dimanapun. Sejak ditemukannya bakteri penyebab tukak lambung, metode pengobatannya juga berubah. Marshall dan Warren memberikan antibiotika untuk membasmi bakteri tersebut, selain itu juga memberikan terapi konvensional untuk menekan produksi asam lambung.
Satu dari Dua Orang Terinfeksi Helicobacter Pylori
Juga diketahui, bahwa separuh populasi penduduk dunia, terinfeksi bakteri Helicobacter pylori sejak mereka kanak-kanak. Menurut penelitian, dewasa ini sekitar tiga sampai lima persen anak-anak, merupakan pembawa Helicobacter pylori. Sementara mereka yang lahir di pertengahan abad lalu, sekitar 50 persennya terinfeksi bakteri lambung tersebut. Sekitar 10 sampai 15 persen carrier atau pembawa Helicobacter pylori tersebut, kemudian menderita tukak lambung atau radang usus duabelas jari. Akan tetapi sejauh ini masih belum diketahui, bagaimana cara penularan Helicobater pylori. Diduga penularannya terjadi dari ibu ke anak.
Jika Berlanjut Dapat Menyebabkan Kanker
Yang juga menarik, Helicobacter pylori adalah bakteri yang dapat bertahan hidup dalam lingkungan asam lambung, yang biasanya membunuh bakteri lainnya. Dengan berlindung di dalam selaput enzym urease, bakteri tersebut dapat hidup di dalam lambung. Sementara sistem pertahanan tubuh tidak dapat menyerangnya, karena sudah terlebih dahulu diuraikan oleh asam lambung. Jika peradangan yang disebabkan bakteri memasuki stadium lanjut, dapat saja terbentuk kanker pada lambung.
Penelitian Penuh Kesederhanaan
Dalam zaman penelitian dengan teknologi tinggi, Robin Warren merupakan peneliti yang boleh disebutkan bukan dari kelompok mainstream. Ia hanya seorang dokter spesialis di rumah sakit biasa-biasa saja di Australia. Secara kebetulan ia berhasil membuat penemuan berharga, sempat dilecehkan dan ditertawakan, tapi terus meneliti dengan biaya sendiri dan pada akhirnya dianugerahi hadiah Nobel.
Istrinya, Win Warren merupakan kelinci percobaannya. Pasalnya, Win mengidap penyakit tukak lambung, dan menjadi pasien pertamanya. Berdasarkan hasil penelitiannya dari tahun 1979, Warren menemukan kandungan bakteri cukup besar, pada sampel selaput lendir pasien tukak lambung. Padahal menurut dogma kedokteran yang dianut ketika itu, di dalam lambung bakteri tidak dapat berkembang biak. Ia menarik kesimpulan, pasti ada anomali yang harus diteliti.
Pembuktian Teori
Berdasarkan temuannya, selain obat penekan produksi asam lambung, Warren memberikan obat antibiotika kepada istrinya. Hasilnya, istrinya sembuh dari penyakit tukak lambung. Dari situ, Warren mendapat bukti dari teori yang dibuatnya: tukak lambung bukan hanya dipicu oleh stress dan gaya hidup, melainkan lebih banyak ditimbulkan oleh serangan bakteri, dalam hal ini bakteri Helicobacter pylori.
Penelitian Warren juga didukung oleh dokter muda, Barry Marshall. Untuk mengukuhkan teori yang dilontarkan mitranya, Marshall melakukan ujicoba yang sebetulnya nekat. Mula-mula Marshall membuat penelitian pada lambungnya sendiri, untuk mengetahui apakah ia merupakan pembawa Helicobacter pylori atau bukan. Ternyata lambungnya bebas bakteri tersebut. Pada tahun 1983 Marshall membuat penelitian dengan dirinya sendiri sebagai kelinci percobaan. Ia meminum air yang dicampur dengan milyaran bakteri Helicobater pylori. Hasilnya, seminggu kemudian Marshall mulai menderita gejala tukak lambung akut. Sesuai dengan metode pengobatan yang dikembangkan bersama Warren, ia menggunakan antibiotika untuk menyebuhkan tukak lambungnya. Akan tetapi berbagai bukti tersebut tidak mampu menggoyahkan dogma yang dianut selama ini. Bahkan jurnal-jurnal ilmiah atau majalah ilmiah menolak mempublikasikan tulisan Warren dan Marshall mengenai Helicobacter pylori. Terlihat betapa sudah mengakarnya dogma, bahwa di dalam lambung tidak mungkin berkembang biak bakteri.
Terobosan Besar
Walaupun begitu, sebuah suratkabar lokal di Perth berani menentang arus dengan mempublikasikan penemuan yang dianggap sebuah terobosan besar. Bagi Bill Wrathall, seorang warga kota Perth yang menderita tukak lambung, tulisan itu menjadi malaikat penolong. Sebetulnya hari itu ia harus dioperasi akibat penyakit tukak lambungnya. Wrathall memutuskan membatalkan operasi dan menjadi pasien resmi pertama Warren dan Marshall. Setelah diobati menggunakan obat antibiotika, pasien penderita tukak lambung itu sembuh.
Buah dari Ketekunan
Sukses datang beruntun. Akhirnya pada tahun 1994, penemuan Warren dan Marshall diakui oleh sebuah dewan dari Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat. Pada tahun yang sama, organisasi kesehatan sedunia-WHO memasukan Helicobacter pylori ke dalam kategori pemicu kanker. Setelah itu menyusul apa yang disebut kesepakatan Maastricht untuk eradikasi Helicobacter pylori. Menimbang ancaman bahayanya, ditetapkan standar eradikasi bakteri tersebut, yaitu menggunakan kombinasi obat antibiotika Amoxicillin dan Clarithromycin. Sasarannya adalah untuk menurunkan risiko kanker lambung dan usus. Puncak dari penghargaan bagi Warren dan Marshall adalah hadiah Nobel Kedokteran tahun 2005 ini, yang memang pantas diberikan kepada dua dokter yang tekun dan pantang menyerah tersebut.
info tsb didapat dari:
http://www2.dw-world.de/indonesia/wissenschaft_Technik/1.159019.1.html
Ujian Akhir semester kali ini, Fakultasku membuat jadwal yang sedikit berbeda dengan Fakultas lian. Disaat yang lain telah memulai ujian, Fakultas memberi minggu tenang dan mulai ujian minggu berikutbya. so.. disaat yang lain dah beres, ujian masih menanti untuk segera dilewati.
Separuh mata kuliah yang kuambil telah aku lewati. Tinggal berdoa agar usahaku membuahkan hasil maksimal. Setelah diberondong dengan ujian selama 4 hari, akhirnya ada jeda bagiku untuk istirahat dan mempersiapkan ujian selanjutnya. Sabtu ga ada Jadwal, senang sekali rasanya.
sabtu pagi… ku ke kampus untuk beresin administrasi SP dan bayar SP ke PSBJ, berasa banget bayarnya ya.. tabungan harus dikuras dulu berhubung kiriman belom datang.
Kembali dari PSBJ, kulangkahkan kaki ke Ibu MAcho untuk beli beberapa bahan makanan. pengen bikin pecel ceritanya. sampe dikosan bareng Ratih ku olah bahan-bahan yang dah dibeli sembari menikmati mangga asem yang dipetik dari pohon depan kosan. Siang yang panas makan yang seger-seger nikmat sekali rasanya.Setelah semua siap, aku, Ratih dan Rina menikmati pecel yang kami buat sambil nonton tivi. mulut dan perut terpuaskan sudah.
Setelah menikati makanan tersebut, berlanjutlah obrolan-obrolan ringan. hingga akhirnya azan ashar memanggil. masing-masing kembali ke kamar dan menunaikan sholat. akupun demikian. setelah itu entah apa yang terjadi pada perutku, tiba-tiba perut ini rasanya begitu nyeri, mual, dan kaku. seperti ingin meledak rasanya. aku tiduran untuk mengurangi rasa sakitnya, tapi apa yang terjadi, ternyata bukannya baikan malah semakin menjadi. Miring salah, telentang tambah sakit, telungkup.. ga ada perubahan justru tambah sesak. hingg akhirnya aku tertidur dengan sendirinya sambil menahan sakit.
menjelang maghrib baru aku terbangu, Alhamdulillah perutku sudah tidak sakit lagi. setelah sholat maghrib ku makan malam, dan ngobrol bareng anak kos lainnya sambil menanti pertandingan piala dunia 2006 ditayangkan di TV. Perutku ternyata kembali bereaksi, perih dan sebah. mungkin masuk angin biasa ujarku. Saat pergi tidur kusempatkan untuk membalurkan minyak kayu putuh untuk menghangatkan tubuhku serta menarik selimut rapat-rapat berharap besok pagi dapat bangun dengan segar dan sembuhlah masuk anginku.
Pukul 02.00 dini hari… (Malam itu Piala Dunia Itali Vs US) ternyata sakit diperutku semakin menjadi, ditambah dengan rasa dingin yang amat sangat. akhirnya ku menelan sebutir antasida karena kuatir yang bermasalah adalah asam lambungku. tidak tahan dengan rasa sakit, ku keluar meminta bantuan seorang teman yang sedang nonton bola di ruang tivi untuk menggosok punggungku dengan minyak kayu putih. berharap sakit ini akan reda. semua upayaku meredakan sakit ini belum membuahkan hasil. hingga adzan subuh berkumandang, rasa sakit ini tidak kunjung reda. matapun tidak bisa terpejam.
setelah sholat subuh… kurasakan mataku begitu berat dan perutku tidak kunjung sembuh. sambil memgangi perut akhirnya aku tertidur sampai pukul 6 pagi. syukurlh sakitnya sedikit mereda, hanya saja suhu tubuhku meningkat, persendian serasa mau lepas, dan tubuhku menjadi sangat lemas.setelah aga siangan, ku berupaya untuk mengonsumsi makanan untuk sarapan dan kemudian minum jamu untuk masuk angin.
kutunggu beberapa saat obat itu bereaksi, hingga kemudian kumerasa bahwa obat ini tidak bekerja pada tubuhku. akhirnya kuputuskan untuk menemui dokter dan mencari obat bagi penyakitku. mengingat seninnya ku masih harus ujian. saat diperiksa oleh sang dokter, ternyata berdasarkan diagnosanya aku terkena RADANG USUS… hah??? sempat terkejut. Selama ini apa-apa yang ku konsumsi amsih dalam batas wajar dan ga aneh-aneh kog bisa….
tapi syukurlah.. setelah ku konsumsi obat-obatan dari sang dokter akhirnya aku merasa lebih baik, sekalipun hari seninnya tidak bisa ikut ujian. untung saja dosennya baik, mengijinkan susulan. Memang Sakit itu tidak menyenangkan. tapi semoga saja menggugurkan dosa-dosaku. Selama ini pasti ku telah banyak berbuat salah dan dosa. Aku bersyukur diingatkan lewat sakitku.
buat anak-anak kost.. jagalah kesehatan. makan bergizi dan sehat. Syukuri kesehatan dengan menjaganya.
Siapa orang yang paling berpengaruh dalam hidupmu??
Kalau pertanyaan ini diajukan padaku, pasti aku akan menyebutkan banyak nama. Nama orang-orang yang banyak mempengaruhi hidupku. secara berurut aku akan menjawab yang pertama adalah Bapak. Sosok yang seumur hidupku (hingga hari ini) terus mengiriku dengan wejangan, teladan (role modelku), dan motivasi. Sosok yang mengajarkan falsafah hidup dan banyak menginspirasi hidupku. Beliau adalah inspirasiku dalam bidang akademis, organisasi, kehidupan sosial, dan pengabdian. Beliau pula yang banyak membantuku mengambil keputusan penting atau bahkan memutuskan hal penting untukku dalam tiap tahapan hidup yng ku jalani.
sosok ke dua adalah Ibu, perempuan yang telah melahirkan dan membesarkanku dengan kasih sayang. Beliau-lahyang mengenalkanku pada ilmu pengetahuan, menuntunku menuju gerbang ilmu. Huruf dan angka pertama yang ku kenal beliau yang mengajarkan. Beliau adalah motivatorku dalam menapaki perjalanan kehidupan. Sosok ini pula yang terus mendorongku untuk melakukan hal terbaik dalam hidup. Nilai-nilai yang diajarkannya hingga saat ini terus memandu tiap langkah yang kuayaunkan. (Aku bersyukur sekali dilahirkan dikeluarga ini…)
Ketiga Nabi Muhammad… Risalah yang dibawanya, kebenaran yang dikemukakannya serta teladannya menjadi arahan bagiku untuk mencapai kebahagiaan yang sejati. Ajarannya mempengaruhi cara hidup dan pandanganku tentang kehidupan. Sekalipun Ia telah tiada tapi selalu yakin untuk mengikutinya. Hingga ingin sekali diriku siatu saat nanti berkumpul dengannya.
Keempat, Mamas… kakak pertamaku. Orang yang telah membuatku berkeyakinan dan memantapkan hati untuk membuktikan pada my lovely mom and dad bahwa ku bisa melakukan hal-hal baik, dan melakukan yang terbaik yang ku bisa dan tidak mengecewakan mereka. Dia pula yang mengajarkan padaku untuk menerima semua keadaan dan tidak mengeluh dengan segala keterbatasan. Segala keterbatasan dan kelebihannya menjadi semangat bagiku.
Kelima seorang teman dari masa remajaku yang tanpa ia sadari telah banyak memberi pengaruh dalam perjalananku. Mungkin dia juga tidak tahu kalu dirinya telah benyak mempengaruhi hidupku. Sosok yang untuk beberapa hal kujadikan contoh, dan terkadang menginspirasiku, bahkan mendorongku menemukan cita-cita dan tujuanku. Sosok ini pula yang sedikit banyak memberi pengaruh bagiku saat mengambil keputusan untuk menutup aurat dengan jilbab.
Yang keenam, Sepupu-sepupu ku yang hebat-hebat dan keren. terutama yang lebih tua dariku. mereka ini yang jadi role model bagiku dalam beberapa hal. prestasi akademik, Pilihan sekolah, Organisasi, Motivasi belajar, pekerjaan, keluarga. Keberadaan mereka membuatku merasakan betapa petingnya keluarga, dan betapa berutungnya dilahirkan di keluarga ini. (Guys.. kalian nyadar ga jadi teladan bagiku??….)
Selanjutnya Seorang sahabat dari masa kecilku yang telah merubah paradigmaku tentang persahabatan. Hanya dalam hitungan minggu, konsep persahabatanku dirubahnya dengan begitu drastis.
Seberapa berpengaruh mereka dalam hidupku?? yng jelas aku yang sekarang ini tidak mungkin akan seperti sekarang ini tanpa keberadaan mereka. Karena merekalah hidupku jadi penuh warna. Tapi bukan berarti hanya mereka yang berpengaruh dalam hidupku, banyak orang yang telah lalu lalang dalam hidupku yang masing-masing telah meninggalkan kesan dan memberi pengaruh dalam hidupku.
Finally, aku cuma ingin berterimaskih pada semua yang telah pernah mampir dalam kehidupanku. pertemuan dengan kalian telah mengajarkan banyak hal padaku.
buat Bapak dan Ibu yang bulan lalu usia perkawinanya bertambah… Aku bersyukur dilahirkan dikeluarga ini.
matur nembah nuwun.
Seharusnya minggu ini aku bertemu sahabatku di "kotanya". bersama dengannya menghabiskan waktu untuk bertukar pikiran, berbagi cerita, curhat, mengenang kembali cerita-cerita lama atau bahkan mungkin jalan-jalan bareng ke tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. bertemu sahabat-sahabat lama yang lainnya mungkin…
Tapi kenyataanya.. sampai hari ini kau masih disini.. di Jatinangor dengan segala ritme kehidupannya. Merasakan denyut kehidupan mahasiswa di penghujung semester. berkutat dengan diktat dan jadwal ujian yang ketat.
ini adalah sekian kalinya aku gagal menemui sahabatku di "kotanya". hm… aku lagi-lagi tidak dapat bertemu dia ,sahabatku. Segudang hambatan menghentikan langkahku menuju kesana. Ujian, Uang, Jadwal, Tugas, Kesehatan… seakan semuanya menahanku untuk tidak segera menemuinya. Padahal hal ini sudah direncanakan jauh-jauh hari. Selalu ada yang menghentikanku.
Akhirnya aku hanya bisa berkata.. mungkin memang belum saatnya aku menemuinya di "kotanya". Tidak saat ini bertemu di "kotanya"…
buat seorang sahabat yang 5 Mei lalu mengunjungiku. semoga bulan depan kita bisa dipertemukan.