Pondokan Keulitan Air (POKA)

Posted on October 4, 2006 by rain-ger.
Categories: Uncategorized.

Musim kemarau tahun terasa amat lama buatku dan teman-teman di kosan. Betapa tidak, sejak akhir Agustus tahun lalu, kosan mengalami kekeringan. Air sumur hanya bisa memenuhi 3 ember setiap harinya. Beruntung masih ada air PAM yang mengalir setiap 3 hari sekali. Bisa dibayangkan, kosan dengan penghuni 24 orang, hanya punya air 3 ember setiap hari, serta air PAM yang 3 hari sekali, pasti sangat mengalami kekurangan air. Beruntung Ibu kos dan beberapa teman di kosan tetangga siap menampung para penghuni kosanku untuk sekedar numpang mandi dan kadang-kadang mencuci.

Disatu sisi kondisi ini benar-benar mengganngu dan menghilangkan kenyamanaan penghuni kosan. Jadwal harian banyak yang berubah dan terganggu. Akan tetapi tidak ada kejadian yang tidak melahirkan pelajaran dan hikmah. Sisi lain dari sulitnya air, menimbulkan kesadaran betapa berharganya Air. Tiap tetesnya sangat bernilai dan pantang disia-siakan. Tiap tetes air dikosan harus membawa manfaat maksimal bai warga kosan termasuk tanaman yang banyak tumbuh disana.

Selain itu, situasi ini membuat warga kosan jadi sering silaturahmi ke Ibu Kost, rumah yang sebelumnya sangat jarang dikunjungi, maklum rumah Ibu Kost dan kosanku tidak berdekatan. Ibu Kost jadi hapal dengan kita penghuni kosannya. Bapak kost pun jadi sering memantau kondisi kosan, sehingga beliau semakin memahami permasalahan yang dihadapi di kosan.

Sulitnya air juga mengajarkan untuk menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan. Setiap Air Pam mengalir, semua orang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga tersebut untuk menampung banyak air, mencuci, mengepel, serta aktifitas lain yang amat tergantung dengan air. Air Pam yang mengalir hanya berapapa jam saja, memaksa untuk tidak melewatkan sedetikpun waktu untuk menampung air. Tidak menunda-nunda waktu menampung air, sekejap saja lengah, bisa-bisa air sudah tidak mengalir lagi.

Sulit Air juga mengajarkan kesabaran dan keikhlasan. Apalagi di bulan Ramadhan ini, saatnya  untuk mendidik diri. Ketika tidak ada air, ketika harus antri air, ketika menanti tiap tetesan air keluar dari keran, serta ketika harus berbagi air dengan penghuni kosan lainnya, semua butuh kesabaran dan keikhlasan.

Yang juga tidak kalah menarik, adalah ketika situasi sulit seperti ini, kepedulian antara sesama penghuni kosan juga semakin meningkat. Tiap kali air PAm mengalir, tanpa diminta ember-ember kosong, serta bak kamar mandi bawah pasti langsung dipenuhi, tanpa peduli siapa pemilik ember tersebut utnuk kemudian digunakan secara bersama-sama oleh penghuni kosan. Siapapun yang mengetahui bahwa air mengalir, dengan kesadaran tinggi segera saja bergerak cepat memenuhi kebutuhan air dikosan.

Sebenarnya masih banyak lagi hal yang bisa dipelajari saat kosan sulit air. Yang pasti sulitnya air tahun ini telah melahirkan begitu banyak hikmah. bagiku terutama

buat temen-temen POKA 2…. berdoalah agar hujan segera turun sehingga ga kesulitan air lagi. buat teh Afni, ilfi, dan teh Dela yang selalu setia mengisi bak dan ember, tiap tetes keringat pasti ada nilainya.