si tampan yang ngangenin

Posted on March 31, 2008 by rain-ger.
Categories: Uncategorized.

wajah tampan dengan senyum mengembang dari bibirnya, membuatnya nampak begitu memesonaku. gayanya yang trendi dan selalu rapi, dengan rambut yang ditata sedemikian rupa, menunjukkan betapa ia memperhatikan pemampilan, menyukai keindahan dan sangat menghargai kebersihan. tampilan luarnya yang begitu sempurna ia imbangi dengan kemampuannya berargumen dan meyakinkan orang lain untuk sepakat dengan pendapatnya atau setidaknya tidak membantah pendapat yang ia lontarkan. kemampuannya ini membuatnya nampak memiliki integritas selaku seorang pria. kemampuan akademisnya tidak diragukan lagi, nilai-nilainya selalu memuaskan hampir disemua mata pelajaran. selain itu ketekunannya dan antusiasmenya menimba ilmu agama sungguh luar biasa. semua yang ada pada dirinya membuatku begitu terpesona dan merasa rindu padanya.

sudah dua bulan kami tidak bertemu, pertemuan yang lalu begitu mengesankan dan menyenangkan. cerita-ceritanya yang seru dan lucu selalu mampu membuatku tak henti tertawa hingga mengeluarkan air mata bahkan. tingkah lakunya yang unik dan  sok cool semakin membuatku kangen padanya. standardnya yang tinggi serta keinginannya yang selalu ingin dipenuhi terkadang membuat sebal tapi tetap saja kurindukan.  teriakan nyaring dan derap kaki mungilnya saat berkejaran dengan sepupu-sepupu kecilku terus mengiang ditelingaku hari ini. sayang sekali kerinduanku padanya terpaksa harus kuredam dan kupendam hingga saat aku bisa pulang ke rumah nanti untuk bertemu keluargaku dan bertemu dengannya, sepupu kecilku yang tampan, si perfectionist yang ngangenin Alfandi Wicaksono

241006_1712

buat dek Fandi semangat belajar Iqra’nya. miss u…

ayat-ayat cinta

Posted on March 24, 2008 by rain-ger.
Categories: Film.

Ayat_ayat_cinta_posterpreview finally, setelah sekian lama menanti, film ayat-ayat cinta akhirnya ditayangkan juga. bersama anak-anak kosan dan bebrapa anak FKG, 26 februari lalu beramai-ramai kita nonton ayat-ayat cinta di 21 Jatos. tepat hari pertama film ini nongol di jatos. ternyata yang nonton rame banget. pasti banyak yang telah menanti-nanti film ini, pembaca novel ayat-ayat cinta dan para penggemar film, pasti penasaran sekali seperti apa filmnya. terlebih lagi penayangannya yang ditunda berkali-kali. sehebat apa kira-kira visualisasi novel yang sempat best seller itu. walaupun sebenarya ketika meniatkan untuk menonton film tersebut, aku telah berusaha menanamkan dalam diri untuk tidak mengingat-ingat novelnya dan benar-benar menikmati filmnya secara utuh. tidak berusaha membandingkan novel dengan film agar saat menyaksikan film, otakku tidak banyak protes mengapa begini mengapa begitu. tapi ketika film mulai diputar otak tidak bisa diajak kompromi. tetap saja bersliweran imajinasiku saat membaca novelnya. terlabih lagi ketika mulai memasuki inti cerita, diri ini tidak hentinya mengajukan protes, mengapa jadi begini?". aku memahami bahwa film dibatasi oleh durasi, sehingga tidak semua isi buku dapat divisualisasikan secara utuh, akan tetapi inti cerita yang diangkat di film benar-benar jauh dari bayanganku. aku berharap bahwa kejadian fahri di penjara itu yang menjadi inti cerita, dan disanalah konflik tersebut terjadi dan digali lebih dalam oleh sutradara. akan tetapi di film, aku menyaksikan bahwa yang diangkat benar-benar kisah cinta fahri dengan begitu banyak perempuan yang mengaharapkan memiliki dirinya. benar-benar kental akan kisah cinta, bahkan bisa dibilang it’s pure a love story. hanya penggambarannya saja bukan lewat pacaran, tidak mengumbar aurat seperti kebanyakan film percintaan lain di indonesia.

terlepas dari kekcewaan tentang cerita yang diangkat, aku benar-benar salut pada sutradara film ini, yang berhasil menghadirkan susana mesir dengan begitu apik. sekalipun syuting tidak di mesir. berani mengagkat nilai-nilai islam dengan jelas dalam film ini adalah hal lain yang patut pula dihagai. tentang jilbab yang dikenakan para pemain pun, aku menaruh simpati pada mereka yang telah berupaya membuat film ini, tidak sungkan menghadirkan pemain dengan kostum jilbab yang menjuntai, serta nampak kesederhanaan muslimah disana, sekalipun itu adalah upaya mereka menghadirkan Al azhar sesungguhnya di film. secara tidak langsung  hal tersebut memberikan pengetahuan pada para penonton tentang jilbab. mengangkat masalah poligami ke dalam film secara berbeda, juga adalah hal lain yang patut di apresiasi. tidak sekedar mengkritik atau memebri gambaran buruk poligamai, seperti kebanyakan film yang bercerita poligami, tetapi mengangkatnya secara elegan yang secara tidak langsung memberikan pesan bahwa poligami tidak begitu saja bisa dilakukan, ada syarat-syarat yang mengikat pelakunya disana, seperti kewejiban untuk berbuat adil, alasan yang kuat untuk melakukannya, serta bukan maksud menyakiti istri pertama.

sekalipun demikian, ada hal-hal yang belum berkenan menurutku, dalam penggarapannya  belum sepenuhnya islami, misalnya pemain yang bukan muhrim berpelukan, bergandenga tangan dan saling menatap dalam, benar mereka hanya sekedar berakting, adalah lebih baik jika yang berperan demikian memiliki hubungan muhrim ataupun pasangan suami istri sehingga semua yang dilakukan halal adanya, seperti pesan yang disampaikan dalam novel yang ditulis habiburahman. selain itu, ada pesan-pesan yang kemudian menjadi bias ketika divisualisasikan dalam film, misalnya tentang berdua-duaan dengan yang bukan mukhrim, jelas sekali ada hadist yang melarang, bahkan dinovel fahri sangat menghindari hal ini, akan tetapi di film terdapat adegan dimana fahri sering sekali berdua-duaan dengan maria. di tepi sungai nil, saat akan bepergian, dan ketika berada dirumah fahri.

terlepas dari semua kekuragan dan kelebihan film ini, aku merasa terhibur mentonnya. semoga saja setelah ini tontonan berkualitas semakin banyak. sehingga seni dan hiburan benar-benar mampu menjadi makanan jiwa yang sehat.

titik akhir

Posted on March 18, 2008 by rain-ger.
Categories: kutipan.

"Jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan yang kita carai dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi sepahit apapun keadaanya."

-Andrea hirata Edensor hal-268-269-

sayur asem

Posted on March 14, 2008 by rain-ger.
Categories: Food and Drink.

sudah lama sekali niy ga masak sayur asem, padahal ini sayur kesukaanku lho. bisa beli di warung makan sebenarnya, tapi rasanya beda dengan yang biasa terhidang dirumah. yang dijual di warung biasanya hanya ada rasa manis dan asam, serta asin, khas masakan orang sunda. kalau yang biasa ibu buat dirumah selain manis dan asam, ada pedes-pedes dikit, serta aroma terasi dan lengkuas yang khas. isinya juga macem-macem, pokoknya ngenagenin banget. makanya pas pindah kejatinangor buat kuliah, saking kangen sama sayur asem ibu, tiap mau pulang aku pasti pesan dimasakain sayur asem, bahkan pernah karena lama ga pulang tapi pengen banget sayur asem seperti dirumah, bela-belain telpon buat nanyain resep sayur asem. he..he.. apapunlah buat sayur asem ibu.

sederhana sebenarnya resepnya, tapi patut dicoba

Bahan:
5 buah Kacang Panjang (potong-potong 3 cm)
½ buah Labu Siam (potong dadu)
1 buah Terong (potong dadu)
20 buah Melinjo
nangka muda
1 genggam Daun melinjo
½ ons Kacang tanah kupas
1 buah Jagung manis
4 buah Cabe kriting hijau (potong 2 cm)
11/2 liter Air

Bumbu:
4 siung Bawang merah
3 siung Bawang putih
3 buah Cabe kriting merah
1 buah Kemiri
1 ruas jari Terasi
1 ruas lengkuas (dikeprek)
½ keeping kecil Gula merah
1 sd makan Gula putih
1 lembar Daun salam
1 sdt Garam / sesuai selera

Cara masak

haluskan bawang merah, bawag putih, cabe kriting merah, kemiri, terasi.

rebus air dan gula merah hingga menididih, masukkan bumbu halus, daun salam, lengkuas, gula putih dan garam. Tunggu hingga mendidih

masukkan jagung, melinjo, kacang tanah dan nangka muda hingga setengah matang,

lalu masukkan labu siam, terong, kacang panjang dan cabe kriting hijau

masukkan daun melinjo 3 menit sebelum diangkat

paling enak niy dimkan sama tempe goreng, ikan bakar atau goreng, atau ikan asin dibakar atau digoreng sama nikmatnya.