You are looking at posts that were written in the month of April in the year 2008.
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Mar | May » | |||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | ||||
dari blog tetangga
Kawan, pernahkah kau merasakan sebuah pendertiaan yang sangat ? barangkali rasanya seperti ingin mati saja, ya! Seperti apa, sih, rasanya ditinggal oleh seseorang yang kita cintai? Mungkin kita akan meratap berhari-hari mengenang masa-masa bersamanya dan berharap semua yang telah berlalu kembali lagi, berangan andai mereka tak pernah pergi.
Kawan, bagaimana rasanya diliputi benci dan kemarahan? Ah, seperti mau meledak dada dan kepala. Inginnya memuntahkan segala kekesalan sepuas-puasnya. Kawan, pasti kita pernah gagal. Saat itu, rasanya dunia sudah tertutup bagi kita. Tak ada lagi semangat apalagi tekad. Kitapun mandeg, malas untuk bergerak lagi. Kawan, semua kita pernah berbuat dosa. Sering kita sadar dan menyesal, tapi kita tak sanggup keluar daripadanya.
Kawan, aku percaya, ketika waktu terus berjalan dan semua itu berlalu, engkau akan melihat dengan pandangan berbeda. Bisa jadi, engkau merasakan penderitaanmu dulu tidak sehebat yang kau kira. Masih banyak orang lain yang lebih menderita. Mungkin saja engkau akan melihat kemarahan dan kebencianmu tidaklah beralasan. Sangat boleh, kegagalanmu belum ada apa-apanya. Barangkali kesalahan dan dosa itu akan membuat kita bisa melihat dan menghayati kebenaran.
Kawan, seiring waktu yang berjalan, pikiran kita tumbuh. Perasaan kita berubah. Jika demikian halnya, maka mengapa kita biarkan diri tenggelam sedangkan ia akan menjadi masa lalu pada akhirnya? Jadi….
Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.
Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.
Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
sedang menahan diri adalah lebih berpahala.
Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang taubat itu lebih utama.
Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam didalamnya,
Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya
Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.
Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.
Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya.
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna
Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.
Suatu hari nanti,
Saat semua telah menjadi masa lalu
Aku ingin ada diantara mereka
Yang bertelekan di atas permadani
Sambil bercengkrama dengan tetangganya
Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu
Hingga mereka mendapat anugerah itu (surga).
[(Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha untuk senantiasa bersyukur dan bersabar dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja dan Cuma seujung kuku, dibanding segala nikmat yang kuterima disini)—(wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertaubat dan tak mengulang lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alam raya, hingga sekarang aku berbahagia)]
Suatu hari nanti
Ketika semua telah menjadi masa lalu
Aku tak ingin ada di antara mereka
Yang berpeluh darah dan berkeluh kesah:
“Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.”
[(Duhai! Harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar setinggi langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak kubuat menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkanku kini?)—(Duhai! Nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup bersabar meski hanya sedikit jua?)]
* Penulis : Azimah Rahayu, Ketua Forum Lingkar Pena Wilayah DKI Jakarta.
I’m not afraid of anything in this world
There’s nothing you can throw at me that I haven’t already heard
I’m just trying to find a decent melody
A song that I can sing in my own company
I never thought you were a fool
But darling, look at you
You gotta stand up straight
Carry your own weight
These tears are going nowhere, baby
You’ve got to get yourself together
You’ve got stuck in a moment
And now you can’t get out of it
Don’t say that later will be better
Now you’re stuck in a moment
And you can’t get out of it
I will not forsake the colours that you bring
The nights you filled with fireworks, they left you with nothing
I am still enchanted by the light you brought to me
I listen through your ears, through your eyes I can see
And you are such a fool
To worry like you do
I know it’s tough
And you can never get enough
Of what you don’t really need now, my, oh my
You’ve got to get yourself together
You’ve got stuck in a moment
And you can’t get out of it
Oh love, look at you now
You’ve got yourself stuck in a moment
And you can’t get out of it
I was unconscious, half asleep
The water is warm till you discover how deep
I wasn’t jumping, for me it was a fall
It’s a long way down to nothing at all
You’ve got to get yourself together
You’ve got stuck in a moment
And you can’t get out of it
Don’t say that later will be better
Now you’re stuck in a moment
And you can’t get out of it
And if the night runs over
And if the day won’t last
And if our way should falter
Along the stony pass
And if, and if the night runs over
And if the day won’t last
And if your way should falter
Along this stony pass
It’s just a moment
This time will pass
*U2

kalo denger lagu ini jadi pengen senyum terus he..he..
Smile though your heart is aching
Smile even though it’s breaking
When there are clouds in the sky, you’ll get by
If you smile through your fear and sorrow
Smile and maybe tomorrow
You’ll see the sun come shining through for you
Light up your face with gladness
Hide every trace of sadness
Although a tear may be ever so near
That’s the time you must keep on trying
Smile, what’s the use of crying?
You’ll find that life is still worthwhile
If you just smile
That’s the time you must keep on trying
Smile, what’s the use of crying?
You’ll find that life is still worthwhile
If you just smile
by Nat King Cole

pagi itu matahari belum
juga terbit, ku dengar sekelilingku begitu riuh dan ramai. tiba-tiba saja
seorang ibu berteriak "awas kakinya", suara itu membuatku terkejut
dan seketika terbangun dari tidurku yang nyenyak. ternyata suara tadi adalah suara
bulekku. belum hilang keterkejutanku mendengar teriakan bulekku tadi, aku
dikagetkan dengan begitu banyaknya orang dikamarku. ada apa ini? dan yang lebih
mengagetkan aku adalah ada seorang bayi mungil tergolek diranjangku, tepat
berada dibawah kakiku. ternyata gerakan kakiku saat tidur tadi yang membuat
bulekku berteriak kencang hingga membuatku terbangun, karena khawatir kakiku
menyenggol bayi mungil tadi. setelah aku benar-benar bangun bulekku memberitahu
bahwa bayi mungil itu adalah adikku yang baru saja dilahirkan oleh ibu. ibuku
memang melahirkan adikku dirumah dibantu seorang bidan, dan herannya aku sama
sekali tidak menyadari berbagai kehebohan yang terjadi dirumah semalaman penuh.
aku baru menyadari betapa ramai rumahku setelah pagi menjelang dan adikku telah
terlahir dengan selamat didunia. senangnya aku punya adik baru, segera saja
kupandangi adikku, dalam hati aku bergumam ternyata bayi baru lahir itu
semungil ini ya. ternyata yang ada diperut ibuku selama ini, bentuk dan rupanya
macam ini.
setelah beberapa waktu
menunggui adikku, aku tersadar bahwa ibuku tidak ada didekat kami waktu itu.
mataku mencari-cari dengan gelisah dimana ibuku, aku bertanya pada budeku dan
ia mengatakan bahwa ibuku berada dikamar yang lain dan sedang istirahat setelah
melahirkan semalam. aku merengek untuk bertemu dengan ibu, mbah putriku sempat
melarang tapi aku berkeras aku ingin ketemu ibu. karena biasanya kalau bangun
pagi wajah ibuku yang pertama kali kulihat, tapi pagi itu aku belum melihat ibu
sama sekali. kemudian dibantu budeku aku diajak ke kamar tempat ibuku sedang
beristirahat, ia tampak letih namun tetap tersenyum dan memintaku mendekat
padanya. aku berkata padanya bahwa adik telah lahir, dan ia ada dikamarku.
melihat ibuku masih ditempat tidur, dengan polosnya aku bertanya, apakah ibu
sakit, mengapa ia masih berada ditempat tidur pagi itu. padahal biasanya ia
telah sibuk mempersiapkan sarapan bagi kami sekeluarga. dengan tersenyum ia
berkata ibu baru saja melahirkan adik sehingga harus berada ditempat tidur
beberapa saat. aku masih tidak mengerti. ku pikir dia hanya akan berbaring
untuk beberapa saat dan ketika matahari mulai bersinar nanti ia akan bangun
dari tempat tidur, membantuku bersiap ke TK. waktu itu aku tidak tahu bahwa
melahirkan itu sakit luar biasa. sampai saat ini akupun belum tahu rasanya
hanya mendengar ceritanya saja. aku tidak bisa berada lama didekat ibuku,
budeku memintaku segera keluar kamar, akhirnya aku duduk didekat adikku
memandanginya yang begitu kecil dan mungil. bibirnya bergerak-gerak entah apa
maunya, matanya masih terpejam erat. mungkin ia masih belum ingin melihatku
mbaknya. ketika jadwalku mandi pagi tiba, aku segera menghampiri kembali ibuku,
ku berkata padanya aku mau mandi dan bersiap ke sekolah. dengan lemah ibuku
berkata bahwa ia tidak bisa membantuku mandi, dan meminta bulekku untuk
memandikanku. awalnya aku tidak mau namun setelah dibujuk dan diberitahu bahwa
ibu tidak kuat memandikanku pagi itu aku akhirnya menuruti. awalnya sebenarnya
aku tidak ingin pergi kesekolah, aku ingin berada didekat adikku saja. adik
kecilku yang baru lahir. aku ingin berada dikeramaian itu, semua orang ada
dirumahku, mbah putri, budeku, bulekku, mbah kakung, sepupu bahkan
tetangga-tetanggaku berkumpul menyambut kelahiran adikku pagi itu. aku enggan
ke sekolah, akan tetapi bapakku menegaskan bahwa hari itu bukan hari libur dan
aku tetap harus pergi kesekolah. dengan berat hati akhirnya aku pergi ke
sekolah dengan diantar sepupuku naik motor.
siang hari tidak biasanya
aku dijemput disekolah. padahal biasanya aku pulang bersama teman-temanku
bersaa-sama, atau ikut dengan salah satu orang tua temanku yang menjemput
mereka sampai rumah mbah putriku, kemudian siangnya aku pulang bersama
anak-anak SD yang searah denganku. rumah mbahku tepat berada dibelakang SD, dan
hanya berjarak 100 meter dengan TK tempat aku bersekolah. sedangkan rumahku
lebih jauh lagi, sehingga saat pulang aku biasanya menunggu anak-anak SD yang
juga tetanggaku di rumah mbah agar tidak sendiri pulang kerumah. sebenarnya aku
berani, akan tetapi orang tuaku dan mbahku tidak pernah mengijinkan berjalan
sendiri. tapi siang itu aku dijemput secara khusus oleh bapakku. suatu yang
amat jarang, beliau kerja pagi hingga siang dan saat aku pulang sekolah bapak
pasti sedang berada di sekolah tempatnya mengajar. setiba dirumah aku langsung
menuju kamar ibuku yang ternyata tengah menyusui adikku. aku ingin mendekat dan
menyentuh pipi adikku. belum sempat aku mendekat, budeku mengajakku untuk ganti
baju, cuci tangan dan kaki. menurutnya tanganku kotor dan aku harus
membersihakn terlebih dahulu. aku berkeras tanganku bersih, aku tidak main
tanah hari itu, setelah makan jajanan disekolah tadi aku sudah cuci tanga,
tidak ada noda disana, kuku bersih dan tidak panjang. menurutku waktu itu
tanganku sudah bersih. budeku berkata bahwa itu kotor tanpa menyebut bahwa yang
dia maksud tanganku mungkin mengandung kuman yang berbahaya jika tidak dicuci
terlebih dahulu. biasanya ibu berkata demikian saat aku malas cuci tangan.
budeku malah mengungkapkan berbagai hal yang mungkin kulakukan hari itu
disekolah yang menurutnya itulah penyebab tanganku kotor dan harus dicuci.
padahal dari semua kemungkinan yang ia sebutkan tak satupun kulakukan hari itu.
masak ia bilang mungkin tanganku tadi menyentuh kotoran burung saat di sekolah.
tidak masuk akal buatku, mengapa aku harus menyentuh kotoran burung. aku juga
tahu kotoran burung itu idak seharusnya disentuh. akukan sudah sekolah pikirku
dan tahu hal sepele macam itu. ibuku pun memintaku menuruti budeku, mengganti
bajuku segara, membersihakn badan dan makan. aku sempat kesal dan cemberut,
mengapa untuk mendekati adikku saja ku dilarang. padahal aku inikan kakaknya,
yang menantikan kelahirannya selama ini. akupun merasa aneh sekali, tiba-tiba
dirumahku ada orang yang lebih berpengaruh dibandingkan ibuku atau bapakku,
yang memintaku melakukan ini itu serta melarang aku melakukan keinginanku.
jujur saja seharian itu aku kesal pada budeku yang melarangku mendekat pada
adikku.
setelah aku selesai
melakukan apa mau budeku, segera saja
aku berlari mendekati ibuku, dengan harapan aku bisa bermain bersama adiku dan
ibuku. saat sampai dikamar, aku kecewa sekali, ternyata adikku telah tertidur
kembali, dan aku tidak diperbolehkan menyentuhnya. saat aku mendekat pada ibu,
kembali budeku berkata, bahwa ibu butuh istirahat dan aku tidak boleh
mengganggunya. lagi-lagi aku dibuat sebal. mengapa sehari ini begitu banyak
orang melarangku melakukan apa mauku. bahkan untuk mendekat pada ibu dan
bermanja-manja dengannya. akhirnya aku memilih pergi keluar rumah dan bermain
dengan teman-temanku karena kesal dilarang ini itu dan disuruh melakukan ini
itu. padahal biasanya aku melakukan semua sesuai mauku. aku lakukan dengan
senang hati karena aku tahu apa yang harus kulakukan dan aku sendiri yang
memutuskan apa yang harus kulakukan. bukan disuruh-suruh seperti hari itu.
biasanya bapak ibuku hanya memberitahu dipagi hari sebelum aku pergi sekolah,
bahwa sepulang sekolah aku mesti ganti baju dan cuci tangan dan kaki, kemudian
aku bisa melakukan apa saja sampai jam makan siang. atau sesekali mereka
memintaku untuk berkunjung kerumah salah satu bude atau bulekku kalau aku mau.
aku tidak merasa terpaksa melakukannya, tapi hari itu aku merasa terlalu banyak
hal yang harus kulakukan karena terlalu banyak perintah kuterima.
berulang-ulang pula. dari bangun tidur, menjelang pergi kesekolah, hingga saat
aku pulang lagi kerumah. jadilah hari itu tidak lagi menyenangkan bagiku,
padahal aku baru saja mempunyai adik dan aku senang karenanya. tapi larangan
yang berulang-ulang membuatku tidak lagi bahagia.
dari apa yang kualami
saat kecil tadi, aku belajar bahwa memang perlu kehati-hatian yang amat sangat
saat berbicara dengan anak-anak. saat memintanya melakukan sesuatu perlu
dipilih kata-kata yang tepat, gunakan bahasa yang dapat dimengerti anak-anak.
cara yang sesuai serta alasan yang tepat agar bisa diterima oleh logika
anak-anak. terkadang orang-orang dewasa tidak sadar bahwa ketika mereka
berkomunikasi dengan anak-anak, mereka menuntut anak-anak yang memahami para
orang dewasa. tidak ingatkah bahwa yang diajak berbicara adalah anak-anak yang
baru beberapa waktu saja mengenal dunia. apakah tepat meminta mereka memahami
pikiran orang dewasa sementara meraka sendiri baru mengerti beberapa hal saja,
hal-hal sederhana. padahal orang
dewaslah yang seharusnya memahami anak-anak. empati, mungkin itu yang harus
dilakukan orang dewasa saat berkomunikasi dengan anak-anak. perlu diperhatikan
pula ketika meminta anak-anak melakukan sesuatu, hidarkan membuat mereka merasa
seperti suruhan, yang hanya iminta melakukan ini atau itu semata yang pada akhirnya membuat anak-anak
hanya merasa terpaksa melakukannya sekalipun tujuannya baik. setidaknya biarkan
anak-anak melakuakan apa yang diminta dengan kerelaan dan ia merasa senang saat
melakukannya. sertakan pula penjelasan mengapa mereka harus melakukan itu. anak
pun ingin dihargai, jika meminta tolong pada mereka gunakanlah kata tolong dan
setelahnya ucapkan terimakasih pada mereka.
pun ketika melarang
melakukan sesuatu, pilihan kata yang tepat perlu sekali diperhatikan. jika
tidak yang terjadi adalah peberontakan atau tidak tercapainya tujuan. kalau
kata psikolog dikoran-koran atau artikel yang kubaca di internet hindarilah
kata "jangan" untuk anak-anak. katanya itu dapat berdampak pada kreatifitas
mereka dimasa datang. terlalu banyak melarang melakukan ini itu benar-benar
harus dihindari saat berkomunikasi dengan anak-anak. anak-anak akan mersa
sangat dibatasi dan dikekang ruang geraknya. bukan berati kemudian mmbebaskan
anak tanpa aturan, aturan tetap perlu ditanamkan, disiplin juga penting
diajarkan, tapi dengan bahasa yang tepat dan cara yang bisa diterima anak-anak
dan tentu saja tidak menghambat kreatifitasnya. apa lagi membuat nak-anak
merasa tertekan karenanya. selain itu jangan pernah mebuat anak-anak merasa
dituduh melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka lakukan. tidak perlu
merasa tahu apapun yang dilakukan anak-anak diluar rumah, padahal kita sendiri
tidak melihatnya hanya menduga-duga saja. adalah lebih baik meminta mereka menceritakan
apa yang telah mereka lalui dan lakukan ketika berada diluar rumah. bertanyalah
pada mereka ketika ingin tahu lebih banyak. orang dewasa saja tidak senang jika
dituduh melakukan hal yang tidak mereka lakukan, apa lagi jika hal tersebut
adalah sesuatu yang negatif. pun demikian dengan anak-anak. berilah kesempatan
kepada ana-anak unuk berbicara dan dengarkan apa yan dikatakannya. pahamilah
mereka.
kamu ketahuan pacaran lagi
dengan dirinya teman baikku
kira-kira begitulah lirik lagu yang dinyayikan seorang balita yang pernah aku temui di bis bebrapa waktu lalu. lirik diatas sudah pasti bukan lirik lagu anak-anak, bahkan tidak pantas didengar apa lagi dinyanyikan anak-anak. tapi herannya seorang balita saja sangat lancar menyanyikannya. dan yang lebih mencengangkan ibunya justru memandu anak tersebut menyanyikan lagu orang dewasa tadi. sesaat aku tersenyum melihat kelucuan kanak-kanak tersebut saat menyanyikan lagu, tapi dalam hati aku merasa miris. lain lagi dengan seorang bocah yang aku lihat tampil dalam sebuah ajang pecarian bakat di televisi, tubuh mungilnya dibalut blazer warna pink dengan model yang biasa dipakai remaja putri atau ibu-ibu muda saat ini, lengkap dengan rok mini, berleggak-lenggok dengan centil diatas panggung bak Mulan Jameela. lagu yang dibawakan pun tidak kalah centil, lagi-lagi lagu orang dewasa.
beginikah gambaran anak-anak zaman ini? dipaksa dewasa sebelum waktunya. menjadi seperti orang dewasa sementara mereka sendiri masih kanak-kanak. aroma dunia baru meraka hirup beberapa saat, getir dan manisnya dunia belum juga mampu mereka kecap. bahkan mungkin belum memahami apa yang mereka lakukan, belum mengerti makna lagu yang mereka nyanyikan. apalagi mencerna pesan moral, kalau ada, dari lagu yang mereka dendangkan. dibesarkan dalam lingkungan yang sama sekali tidak mendukung perkembangan mereka. lingkungan bermain yang sempit dan sangat terbatas, serta disuguhi hiburan dan tayangan televisi yang sama sekali tidak cocok untuk tumbuh kembang mereka. aku jadi teringat tulisan seorang anak dalam sebuah buku kumpulan esai anak-anak. ia mendambakan sebuah dunia yang adil bagi anak-anak. dunia yang membiarkan meraka berkembang dan tumbuh seperti seharusnya. ia sangat berharap anak-anak tidak dipaksa menjadi orang dewasa, dihargai keberadaanya sebagai anak-anak. ingin diakui keberadaanya sebagai anak-anak hanya itu. atau singkatnya ingin dihargai hak-haknya sebgai anak-anak. semoga saja hal ini segera terwujud.
Ketika membaca buku Laskar Pelangi beberapa waktu lalu, ingatanku seakan dibawa kembali ke masa kecilku. Apa yang pernah ku lihat dan kualami saat kanak-kanak kembali terbayang dan melintas dalam benakku. Ketika itu aku duduk di kelas 4 SD, sekolah diliburkan hari itu karena bapak ibu guruku harus menghadiri acara seminar. Agar tidak bengong sendirian di rumah, Bapakku mengajaku untuk ikut ke sekolah dimana ia mengajar ketika itu, SD Negeri 1 Fajarbaru. Jarak yang harus ditempuh menuju SD tersebut lumayan jauh dari rumahku, dengan kondisi jalan yang banyak lubang. Selain sawah yang luas, untuk mencapainya kami juga harus melewati kebun kopi dan hutan kecil, sebelum akhirnya melewati jembatan yang membelah sungai Way Sekampung. Aku ingat sekali sebelumnya aku pernah pula diajak Bapak
Ke SD tersebut saat TK, ketika itu belum ada Jembatan yang bisa dilalui untuk menyebrang. Sehingga jika ingin menyebrang sungai satu-satunya cara adalah naik perahu dengan membayar jasa tukang perahu. Saat hujan deras dan sungai meluap biasanya perahu tidak dijalankan, sehingga untuk mencapai sekolah tersebut harus memutar jalan yang jaraknya bisa 3 kali lipat lebih jauh. Bisa dibayangkan kira-kira seterpencil apa sekolah itu.
Kembali kekunjungan saat aku kelas 4 SD tadi, terus terang ketika itu aku langsung memabandingkan kondisi sekolah itu dengan sekolahku. Memang sekolah secara fisik tidak terlalu bagus, akan tetapi kondisi SD Fajarbaru ternyata lebih tidak bagus lagi. Jendelanya amat tinggi, tanpa daun jendela dan hanya ditutup jalinan kawat yang membentuk pola belah ketupat. Lantainya pun banyak yang bolong. Yang lebih mengejutkan lagi bagiku adalah murid-muridnya. Tiap kelas paling banyak 12 orang. Bahkan kelas 6 waktu itu hanya ada 9 orang siswa, sudah barang tentu banyak bangku yang kosong. Dan agar tidak rusak bangku-bangku tersebut disusun sedemikian rupa dipinggir ruang kelas. Tidak hanya itu yang membuatku sedikit heran, murid-murid disana amat jarang yang mengenakan sepatu ketika pergi sekolah. Sendal jepit, bahkan sandal kulit manusia (telanjang kaki) adalah hal lumrah. Senang sekali ku pikir bisa mengenakan sandal saat sekloah. Sesuatu yang dilarang keras disekolahku. Kalaupun bersepatu tidak jarang yang sepatunya sudah koyak dimana-mana atau bahkan lepas sol-nya sehingga jika dilihat seperti mulut buaya. Aku ingat satu kejadian saat aku ada disana ketika itu, ada seorang anak kelas 4 yang berkelahi dengan anak kelas 5 gara-gara sepatu. Siswa kelas 4 tersebut tidak terima ketika diejek oleh siswa kelas 5 yang mengatakan bahwa sepatunya mirip buaya Way Sekampung. Mungkin siswa kelas 5 itu iri karena temannya mengenakan sepatu sementara ia hanya mengenakan sendal jepit karet.
Tentang sepatu juga ada cerita menarik yang aku ingat, tentu saja ini cerita dari bapakku. Ketika itu akan ada ebtanas bagi siswa-siswa kelas 6. Karena jumlah siswa sekolah tersebut kurang dari 20, maka mereka tidak bisa mengadakan ujian sendiri disekolahnya. Sehingga harus bergabung ke sekolah terdekat. Jaraknya pun sebenarnya tidak dekat hampir 6 kilo meter dengan kondisi jalan yang buruk, ditambah hamparan kebun luas sepi dan rawan kriminalitas yang harus dilalui, serta ketiadaan kendaraan menuju kesana, membuat jarak tersebut terasa sangat jauh. Peraturan disekolah penyelenggara ujian adalah bahwa peserta ujian harus mengenakan sepatu untuk bisa masuk ruangan dan mengerjakan ujian. Tidak jarang para siswa yang tidak memiliki sepatu sengaja membeli sepatu agar bisa ikut ujian, bagi mereka yang tidak cukup mampu terpaksa harus meminjam pada kakaknya atau pada teman yang lain. Suatu kali ada seorang murid bapak yang mengatakan tidak akan ikut ujian karena tidak memiliki sepatu, orang tunya tidak punya uang untuk membeli sepatu, kakaknya tidak mau bolos sekolah karena sepatunya dipinjam, sedangkan teman-teman yang lain tidak ada yang bisa dipinjam sepatunya karena ukurannya kesempitan. Akhirnya guru-guru SD tadi membelikan sepatu bagi muridnya tersebut. Tidak jarang pula para guru mengumpulkan sepatu bekas dirumahnya ataupun dari teman dan tetangganya untuk diberikan pada para siswa yang tidak mampu membeli sepatu.
Selain sepatu hal menarik lain yang kuingat ketika itu adalah seragam para siswa. Tidak sedikit kulihat siswa dengan seragam putih merah yang sudah tidak layak dikenakan. Selain warnanaya yang telah pudar, beberapa telah koyak dibebrapa bagian, kancingnya hilang ataupun risleting yang telah rusak. Jadilah baju meraka penuh peniti karena ibunya belum sempat menisik dan memperbaikinya. Atau bahkan ukuran yang sudah sangat kekecilan, namun karena belum memiliki cukup uang meraka tetap harus mengenakannya.
Ada pula yang kulihat mengenakan seragam yang kedodoran, karena ukurannya terlalu besar untuknya, mungkin milik kakaknya dulu atau sengaja dibeli dengan ukuran besar agar tidak perlu membeli seragam berulang-ulang. Akan tetapi diatas segalanya aku melihat meraka begitu ceria ketika berada disekolah.bermain dengan senangnya seperti tidak terbebani apapun. Dan yang paling menyenangkan adalah mereka semua saling mengenal dari kelas 1 hingga kelas 6. Dan mereka tidak canggung bermain bersama. Ternyata kemudian aku ketahui bahwa siswa-siswa SD Fajarbaru terbiasa pergi ke sekolah bersama-sama. Jarak rumah dan sekolah yang cukup jauh, luasnya kebun kopi dan kebun pisang yang harus dilalui untuk sampai sekolah, membuat mereka selalu pergi dan pulang kesekolah bersama-sama. Dengan berjalan kaki tentunya. Bahkan ada yang tidak pergi sekolah karena tertinggal teman-temannya dan ia tidak cukup berani untuk pergi sendiri. Sementara orang tuanya tidak punya cukup waktu untuk mengantarkan kesekolah.
Siswa-siswa sekolah ini juga cukup menarik, mereka hormat sekali pada bapak ibu guru mereka. Dan bentuk hormatnya sungguh unik bagiku. Ketika pulang dari sekolah bapak, aku diajak melewati jalan memutar yang lebih baik kondisinya sekalian melihat-lihat. Sekalipun yang kulihat adalah hamparan kebun kopi, pisang dan ilalang. Setiap kali berpapasan dengan murid-murid bapak yang pulang dengan berjalan kaki, mereka menyapa bapak yang adalah gurunya dengan ucapan "selamat siang Pak" seraya mengangkat tangannya ke pelipis layaknya sedang hormat kepada bendera. Suatu hal yang tidak pernah ku lihat sebelumnya apa lagi kulakukan ketika berpapasan dengan guruku. Paling menyapa saja tanpa pernah mengangkat tangan tanda hormat. Ketika kutanyakan kepada bapak mengapa demikian, ternyata memang begitulah kebiasaan murid-murid disana. Dan memang bukan hanya murid SD 1 Fajarbaru saja yang melakukannya, ketika berpapasan dengan siswa sekolah lain pun pemandangan serupa juga kulihat. Tidak peduli itu gurunya atau bukan, asalkan berseragam guru meraka akan memberikan homat demikian. Luar biasa.
Sekalipun tidak sehebat kisah para anggota Laskar Pelangi dalam mengukir prestasi bagi sekolahnya. Siswa SD Fajarbaru yang kuketahui ketika itu, adalah jawara dilapangan olah raga. Berbagai lomba olah raga mulai dari atletik, tarik tambang hingga kasti tidak jarang mereka menangkan. Secara fisik meraka memang lebih kuat dibandingkan siswa dari SD lain. Jarak yang begitu jauh yang harus ditempun tiap kali puang dan pergi sekolah, serta kebiasaan membantu orang tua di landang menempa fisik meraka menjadi kuat. Untuk kasti dan tarik tambang banyak siswa SD lain yang merasa ciut nyalinya tiap kali harus berhadapan dengan mereka. Kemapuan berlari kencang, menembakkan bola dengan akurat, yang sudah barang tentu kalau mengenai anggota badan sakitnya luar biasa, dimuliki oleh hampir semua siswa SD Fajarbaru. Begitupun saat lomba tarik tambang, tangan meraka begitu kukuh menarik tambang dan tau pasti kapan harus menghabisi lawan. Yang jelas mereka adalah singa lapangan olah raga.
Ada
hal memprihatinkan lain yang kuketahui tenatang para siswa SD Fajar baru. Tidak sedikit dari mereka yang tidak bisa melanjutkan sekolah hingga ke SLTP atau bahkan yang lebih tinggi. Kalau pun ada jumlahnya sangat sedikit. Selain jarak dari rumah ke sekolah yang begitu jauh, factor baiya juga adalah halangan bagi meraka. Pekerjaan orang tua merea sebagai petanai dengan penghasilan yang tidak menentu membuat meraka terkadang harus menyerah pada keadaan dan berhenti melanjutkan sekolah. Biaya sekolah memang tidak mahal, akan tetapi kebutuhan untuk bersekolah lainnya tidak mampu mereka penuhi. Mau tidak mau meraka harus punya kendaraan untuk bisa sampai kesekolah, belum lagi sergam serta buku-buku, serta iuran-iuran lain disekolah. Saat aku kecil tidak jarang aku mendengar bapak mengatakan bahwa salah satu siswinya akan menikah sgera setelah menerima ijasah. Jumlah pernikahan dibawah usia memang tidak sedikit disana. Saat aku mengunjungi sekolah itu, kami sempat melewati sebuah rumah yang kata bapak adalah rumah salah satu muridnya yang memilih menikah ketimbang melanjutkan sekolah.
Demikianlah kisahku saat mengunjungi SD Negeri 1 Fajarbaru 14 tahun lalu. Itulah yang kulihat, kudengar dan terksan dibenakku. Setelah belasan tahun tidak mengunjunginya aku tidak tahu lagi bagaimana perkembangan disana. Semoga saja telah ada perbaikan dan kemajuan berati disana. Tidak ada lagi siswa yang harus telanjang kaki kesekolah, semua berpakaian rapi dan layak, dan yang pasti kuharapkan adalah mereka semua mampu dan mau melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Yang tidak boleh terlewatkan adalah bahwa kualitas pendidikan yang mereka terima pun harus terus ditingkatkan, sehingga meraka menjadi insan kamil.
Kenangan sehari di SDN 1 Fajarbaru.
Untuk Mardiyana, seorang teman dari SDN 1 Fajarbaru, salam hangat untukmu.
Finally nyambung juga tulisan ini. Setelah bercerita tentang mujid yang haus ilmu, dan rela bermandi peluh untuk mengobati dahaganya akan ilmu.
Ada kisah lain dari mujid yang patut pula diketahui. Dari cerita adikku, bisa ku simpulkan bahwa mujid adalah anak yang berbakti pada orang tuanya. Hari-harinya yang padat dan melelahkan tidak kemudian menghalangi dirinya membantu bapaknya memberi makan ternak dan berbagai pekerjaan lain. Yang paling mengharukan adalah dukungan orang tuanya yang sungguh luar biasa. Tiap kali menghadapi perlombaan mata pelajaran ataupun karya tulis, orang tua mujid memberikan dukungan, bukan sekedar doa, tapi meminta putra mereka tercinta untuk berhenti sementara membantu pekerjaan mereka untuk fokus pada persiapnnya menghadapi lomba. Suhanalloh… Dan taukah, karena larangan membantu orang tua ketika dalam persiapan lomba, mujid sering tidak mengatakan pada orang tuanya ketika akan menghadapi lomba karena tidak ingin dilarang membantu mereka. Tampak bukan bahwa ia pun adalah anak yang berbakti pada ibu bapaknya.
Ada satu hal lagi tentang mujid yang memuatku kembali berdecak kagum saat menengarnya an bahkan ketika ini kutuliskan. Pernah suatu kali teman-temannya di sekolah mengikuti pertandingan basket di gor saburai bandar lampung, jarak kira-kira 50 kilo meter lebih jaraknya dari rumah mujid. Saat perandingan tengah berlangsung, mujid datang memberikan semangat pada teman-temannya. Tentu saja mereka merasa heran, karena saat berangkat hanya para pemain saja yang ikut. Tiba-tiba saja mujid muncul. Ketika pertandingan berakhir dan mereka bercakap, diketahuilah bahwa mujid menyengajakan diri menonton mereka dan tentu saja ia tempuh jarak sejauh itu dengan mengayuh sepeda. Ketika ditanya bagaimana bisa samapi tempat tersebut, padahal belum pernah sama sekali ia mengunjungi gor saburai, dengan entengnya ia jawab "ya nekad saja, kalau dicari pasti juga ketemu". Mengharukan sekali… Saat pulang sepeda tua mujid tidak lagi dikayuhnya tapi dinaikkan keatas mobil yang membawa pulang teman-temannya. mereka sangat tersentuh dengan kehadiran mujid ketika itu. ia dielukan layaknya pahlawan pertandingan
Ketika berbicara tentang nujid hanya tasbih dan pujian saja yang bisa kuucapkan. Kekaguman akan kegigihannya, ketekunanya, baktinya pada orang tua dan kepedulian pada teman-temannya sangat luar biasa
ini lirik lagu yang sering banet diputer di prambors fm beberpa waktu terakhir. lucu banget lagunya. easy listening deh, liriknya juga unik.
Kepompong
Dulu kita sahabat
Teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari
Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat, berharap jadi kupu-kupu
Kini kita berjalan berjauh-jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin kuterlalu bertingkah kejauhan
Namun itu karena kusayang
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman Hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
na..na..na..na..na..na
*by sind3ncosta
hampir satu tahun ini kita bersama bagai tidak terpisahkan, tiba hari dimana aku harus lepas darimu, atau tepatnya terbebas dari dirimu. lama sudah kunantikan saat itu tiba, saat berpisah denganmu. selama ini aku bertahan bersamamu hanya karena keadaanlah yang memaksaku tetap bersamamu. aku terus bertahan sekalipun setiap hari kau membuatku tersiksa dan sakit, tidak bisa makan enak dan menikamti apel buah kesukaanku dengan nikmat. banyak perubahan kulakukan untukmu, demi membuatku nyaman bersamamu. sungguh menyiksa sekali bersamamu. sekalipun kau telah torehkan kenangan indah yang pasti akan selalu membekas. aku teta harus meninggalkanmu. hari ini aku berhasil meninggalkanmu. kita berpisah setelah semua yang terjadi. dan akupun telah menemukan penggantimu, pasti lebih baik daripadamu. lebih indah dan tentu saja tidak akan menyakitku seperti engkau menyakiti aku. dan taukah kau? setelah aku meninggalkanmu, aku yakin sekali tidak ada seorangpun yang mau bersamamu, kecuali satu orang saja. itupun pasti karena ia ingin menjadikanmu bukti keberhailnnya membebaskanku darimu.
selamat tinggal hook, kawat gigi rahang atasku.
semoga kawat yang baru membuat gigiku lebih cepat rapi.