You are looking at posts that were written in the month of February in the year 2009.
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jan | Mar » | |||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | |
“Hidup ini bukanlah rangkaian kejadian yang tidak bertalian. Hidup adalah sebuah melodi yang mengalun pasti, setiap nada bersambung ke nada berikutnya dengan harmonis. Melodi yang sederhana dan indah ini tidak bisa diramalkan, tetapi setiap nadanya tidak pernah bisa diramalkan, tetapi setiap nadanya tidak pernah terlalu cepat atau terlalu lambat. Bahkan setiap nada selalu tepat. Namun, setiap nada harus kita tangkap seperti seseorang menangkap burung yang sedang terbang dengan kecepatan tinggi.”
(Mauriel Maufroy, Kimya sang Putri Rumi hal 154)
membantu dua orang bocah kelas 1 SD membaca, ternyata tidak mudah. perlu kesabaran ekstra dan ketelatenan yang luar biasa. beberapa hari terakhir ini, aku membantu dua orang bocah kelas 1 SDN ciawi Jatinangor untuk belajar membaca. sedikit terkejut pada mulanya, karena mereka sama sekali belum bisa mengeja, bahkan abjad masih sering lupa. tahu pelafalannya, tapi tidak tahu bentuk abjad yang dilafalkan. ketika diajarkan pun tidak bisa langsung ingat dan bisa, perlu diulang berkali-kali dan dengan berbagai cara agar mereka bisa.
mengajari bocah-bocah tadi membuatku kengen sekali pada ibuku dan Bu As guru kelas 1 SDku. belaiu-beliau ini adalah dua orang telah mengantarkanku pada gerbang ilmu ; serta memberikan kunci utama untuk membuka gerbang tadi, aksara dan angka. saat belum SD, dirumah ibuku begitu telaten mengenalkan abjad, mengajari mengeja, dan merangkainya menjadi kata dan kalimat bermakna. ibuku juga adalah orang yang mengajarkanku untuk mencintai buku. saat belum pandai membaca, beliau secara rutin membacakan cerita dari buku dan majalah untukku. paling sering yang dibacakan adalah dongeng dari berbagai negara dan daerah. ibuku juga rela cabe dan bawangnya berantakan, karena anaknya tidak sabar ingin membaca koran pembungkusnya setiap kali pulang dari belanja ke pasar atau warung. menyisihkan gaji gurunya yang tidak seberapa, untuk membelikanku buku-buku dan majalah agar anaknya gemar membaca. aku ingat sekali, oleh-oleh wajib tiap kali ibu ke pasar adalah 3 buah majalah anak-anak yang dibeli dari tukang majalah bekas. sering kali ibu membeli majalah kadaluwarsa yang masih lengkap isi dan bonusnya dengan harga majalah bekas.
di sekolah, Bu As mengajarkan bebagai cara membaca, membaca nyaring, membaca dalam hati, menyimak, dan intonasi. dengan penuh kesabaran dan senyuman yang tetap mengembang, Bu As mengajari kami murid-muridnya. bahkan beliau rela meluangkan waktu disore hari yang semestinya untuk keluarga, mengajari secara khusus siswa yang belum lancar membaca. belaiu juga senantiasa memotivasi kami untuk semangat belajar mebaca. pesan yang selalu kuingat dan masih kupraktikan hingga hari ini adalah, “bacalah semua tulisan yang kau lihat”, demikian kata Beliau suatu kali. “kalau kalian melihat tulisan di jalan, di pohon, di buku, koran, majalah, bahkan bungkus cabe dan bawang, jangan lewatkan. bacalah semua”. sebenarnya itu adalah pesan agar kami makin lancar membaca, tapi lama-kelamaan menjadi kebiasaan bagiku. hingga kini, tiap kali melihat spanduk, pamflet atau plang nama ditempat yang kulalui, atau bahkan diangkot dan bis, jika memungkinkan pasti kubaca.
aku kangen sekali pada Ibu dan Bu As, untuk jasa mereka yang satu ini, mengajariku membaca, belum pernah aku sampaikan terimakasihku secara khusus dan langsung. (betapa tidak tahu budi diriku ini). padahal kalau saja aku tidak diajari membaca, pasti banyak sekali hal yang tidak kuketahui, begitu banyak hal yang tidak bisa kuraih dan kucapai, banyak yang tidak bisa kukerjakan, termasuk menulis di blog ini. ah… jadi ingin segera ketemu ibu, memeluk beliau dan mengucapakan betapa aku berterimaksih telah diajarkan membaca. ingin ketemu Bu As, untuk mengungkapkan rasa terimakasihku atas semua jasa dan pengajaran beliau.
inilah beberapa coretan bocah-bocah tetangga yang sering nongol di POKA sore hari untuk baca, bermain, menggambar atau mewarnai. mereka menggambar sendiri, menilai sendiri. serta memberi nama/judul karya mereka sendiri.
“pinguin kaisar” karya Ari (kelas 5 SD)
“Doraemon” karya Anti (kelas 3 SD)
“Pelangi” karya Tia (kelas 1 SD)
“Rumah Snow” karya Ajay (kelas 4 SD)
“kita menangis saat ada sesuatau yang menyedihkan. kita juga sering menangis saat ada sesuatu yang indah. ketika ada sesuatu yang lucu atau jelek, kita tertawa. mungkin kita sedih saat merasakan keindahan karena kita tahu itu tak akan berlangsung selamanya. kita tertawa ketika ada sesuatu yang jelek karena kita tahu itu hanyalah canda.”
(Jostein Gaarder, Cecilia & Malaikat Ariel. hal- 21)