You are reading sirih tanda cinta. You can leave a comment on or trackback to this post
Newer »« Older| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Mar | Jul » | |||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | |||
akhirnya jadi juga pulang ke Lampung. lumayan lama dirumah, yang jelas sangat puas menikmati suasana rumah. puas cerita-cerita dan cela-celaan dengan adikku, menikmati masakan ibu tiap hari, gangguin masku dipagi hari, kerja bakti bersih-bersih rumah bareng bapak dan iyas, aktifitas yang sudah lama tidak kita kerjakan bersama; keliling kerumah sodara-sodara, menikmati jajanan pasar yang aku kangenin, dan yang tidak boleh terlewat adalah menikmati pemandangan langit malam hari yang penuh bintang, beda banget dengan langit jatinangor yang sudah mulai sepi bintang.
pulang kali ini memang sudah direncanakan beberapa minggu sebelumnya, bertepatan dengan acara pernikahan salah seorang sepupu. sebenarnya rencana awalnya adalah menghadiri acara pernikahannya di jakarta saja karena akadnya digelar disana, ternyata ibuku menelepon dan meminta untuk sekalian saja pulang ke Lampung. akhirnya sehari sebelum walimahnya, aku meluncur ketangerang, dilanjutkan dengan menghadiri walimah di jakarta, dan berlanjut dengan perjalanan ke lampung. berhubung keluarga dari Lampung bawa kendaraan sendiri dan ada satu tempat kosong, akhirnya aku ikut sekalian sampai rumah. seru juga seperjalanan bareng bude-bude dan pakde-pakde, banyak cerita dan pengalaman yang dibagi sekaligus jadi yang paling muda. yang jelas pulang kali ini beda dari pulang biasanya. banyak hal-hal baru dan menarik terjadi.
kali ini adalah perjalanan pulang dari Jatinangor ke Lampung terlama, berangkat dari jatinangor sabtu sore sampai rumah minggu malam. padahal biasanya hanya perlu 12 jam saja. ini juga perjalanan pertamaku ke tangerang sendirian hanya berbekal alamat tujuan dan petunjuk angkutan umum mana yang harus kunaiki, malam hari pula sampainya. pertama kalinya pula aku menyaksikan sebagian prosesi pernikahan dengan adat betawi. sayang tidak sempat menyaksikan akadnya, katanya siy pake bawa-bawa roti buaya. hanya menyaksikan acara “palang pintu”, kalau versi pernikahan jawa semacam acara “temon” saat resepsi. beneran kocak abis acaranya, serasa sedang menyaksikan acara lenong minus mpok nori dan bang malih. rebana, pantun, silat dan banyolan jadi bagian utama acara “palang pintu” tadi. yang jelas seru dan lucu, pertama kalinya aku melihat mempelai pria jadi bahan olok-olokan di acara perkawinannya sendiri. layaknya acara adat berbagai suku di indonesia, acara adat “palang pintu” juga sarat simbol dan perumpamaan. dan aku baru tahu bahwa dalam budaya betawi, sirih dan bunga (sayang lupa bunga apa namanya) adalah simbol cinta suami kepada istri; seperti mawar merah jadi lambang cinta dalam budaya barat. jadi buat cewek-cewek kalau tiba-tiba dihadihai sirih dan bunga oleh suami jangan tersinggung, bukan dikira sudah nenek-nenek jadi harus nyirih, tapi itulah tanda cinta suami kepada istri.
hal pertama lain yang kualami selama pulang kali ini adalah, menyaksikan prosesi adat jawa “ngunduh mantu”, selain kebanyakan saudara adalah perempuan, saudara laki-laki yang menikah jarang sekali yang pakai acara “ngunduh mantu”. ternyata tidak seribet acara “temon”, tapi sama kidmadnya. paling mengharukan adalah saat mempelai disambut ibu bapaknya, disuguhi minuman, dibawa kepelaminan dan sungkeman. membuat terharu aku yang menyaksikan apalagi tembang jawa yang dinyanyikan sebagai latar isinya berkisah tentang cinta orang tua ke anak. kalau gak malu dan sayang make up, pasti air mata gak bisa dibendung deh. beruntung renita yang berdiri disebelahku ketawa-ketawa gak jadi ada yang netes deh. tapi beneran gak ngerti saat penata acara, perwakilan keluarga mempelai putri dan putra ngomong pakai bahasa jawa halus. beneran seperti menyaksikan wayang orang. diacara ini juga aku jadi benar-benar tahu kemampuan bahas jawa halus Bapakku, ternyata memang benar bisa bahasa jawa super halus. selama ini hanya mendengar kata orang saja bapak bisa jawa halus, sehari-hari bahasa sehalus itu jarang dipakai biasanya pakai bahasa madya. yang pasti selama acara ngomong-ngomong pakai bahasa jawa halus tadi, namaku disebut berkali-kali baik oleh penata acara ataupun perwakilan keluarga, Angger, ngger, padahal inikan acara ngunduh mantunya mas aan dan mbak rachma. (muka polos mode on)
sebenarnya masih banyak kisah yang mau ditulis selama pulang kali ini, tapi gak seru kalau ditulis sekali. kali ini cerita acara pernikahan saja deh
no comments yet.
pengalam berharga di kampung nelayan »« diantara 4 pilihan (bank)
Names and email addresses are required (email addresses aren't displayed), url's are optional.
Comments may contain the following xhtml tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>