pengalam berharga di kampung nelayan

Posted on July 28, 2009 by rain-ger.
Categories: corat-coret, enak dipandang.

tetap bertahan posting blog via Fs, saat semua orang sudah pindah ke FB. sederhana saja alasannya, males punya account dibanyak tempat. bukan itu yang mo ditulis di postingan ini. kali ini ingin posting beberapa cerita tempat yang sempat ku kunjungi selama pulang beberapa waktu lalu. setelah 2 bulan sebelumnya pulang, bulan juni ini pulang lagi ke Lampung, mendadak karena dikabari kalau My lovely Mom sakit dan sempat opname dirumah sakit. ga lega kalau gak lihat sendiri jadi segera saja meluncur pulang. alhamdulillah sekarang sudah sehat dan bisa beraktifitas biasa lagi.

kampung nelayan

pekan terakhir di rumah, saat kondisi kesehatan ibu semakin bagus, ramai-ramai bareng keluarga besar menyempatkan diri mengunjungi kerabat di Wonosobo, salah satu kota kecamatan di Kabupaten Tanggamus. ternyata jarak rumah yang kami kunjungi ke pantai tidak terlalu jauh, hanya sekitar 3 atau 4 kilo meter saja, ramai-ramai kita ke pantai. berhubung bareng bude-bude dan bulek yang semuanya sudah ibu-ibu, tujuan utama ke pantai selain lihat pemandangan adalah belanja ikan segar. akhirnya pantai yang dituju adalah pantai Drigul, yang secara geografis lebih dekat ke Kec. Wonosobo tapi secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kec. Kotaagung. Kata si Oom pantainya masih alami dan merupakan perkampungan nelayan, tambah semangatlah ibu-ibu itu. sekalian memperkenalkan perkampungan nelayan ke anak-anak, demikian kata salah seorang bude. maklum saja kunjungan kali ini selain bude-bude dan bulek-bulek, ikut juga sepupu-sepupu dan keponakan yang rata-rata masih SD. pantainya tidak berada di sisi jalan raya, melainkan harus masuk melalui jalan berbatu dan berlubang dari pasar Wonosobo sehingga kendaraan tidak dapat dipacu kencang. 10 menit pertama kanan kiri jalan padat dengan pemukiman penduduk yang didominasi rumah permanen lengkap dengan koleksi tanaman hias yang indah. sepuluh menit selanjutnya hanya hamparan sawah dan kebun Kakao di sisi jalan yang dapat ditemui. sedangkan dimeniit-menit terakhir mendekati pantai kembali dijumpai perkampungan, berbeda dengan perumahan di menit awal, hampir semua bangunan diperkampungan ini adalah bangunan rumah sementara yang terbuat dari papan atau bambu dengan atap dari rumbia. kuhitung hanya ada 3 bangunan permanen disana, pertama sebuah rumah penduduk, mungkin juragan ikan disana, kedua adalah bangunan SD Negeri satu-satunya, dan terakhir adalah Masjid. sekalipun jaraknya hanya 3 atau 4 Km dari Jalan raya, daerah ini belum tersentuh listrik, bahkan sarana sanitasi juga sangat tidak memadai, hampir tidak ada malah. tapi keindahan pantainya luar biasa.

sepanjang pantai berjejer rumah nelayan yang seragam, serta deretan perahu warna-warni. selain itu juga berjajar pancang bambu yang biasa digunakan nelayan untuk menjemur ikan asin. siang itu para nelayan tidak melaut, menurut mereka ombaknya terlalu besar akibat bertiupnya angin tenggara. siang itu nampak beberapa nelayan tengah memperbaiki jala dan perahu mereka sementara tidak melaut. rencana membeli ikan segar dari para nelayan pupus sudah, karena tak satupun nelayan berani turun kelaut. beberapa pedagang ikan yang biasa membeli langsung dari nelayan juga nampak kecewa karena tidak berhasil mendapatkan barang dagangan. yang lebih kecewa lagi adalah para sepupu dan keponakan yang sudah berencana untuk main-main air di pantai, karena ombak terlalu besar, para nelayan melarang untuk bermain dilaut. akhirnya mereka hanya bermain di bibir pantai saja mengejar kepiting yang berlarian menuju lubang-lubang di pasir pantai yang berwarna kelabu. beginilah pemandangan pantai drigul siang itu

pantai drigul nan indah

pantai drigul nan indah

rame-rame nyari kepiting yang ngumpet di pasir

rame-rame nyari kepiting yang ngumpet di pasir

mengagumi ciptaan-Nya

mengagumi ciptaan-Nya

perkampungan nelayan pantai drigul

perkampungan nelayan pantai drigul

belanja ikan segar di TPI

untuk mengobati kecewa tidak mendapatkan ikan di pantai Drigul, para ibu-ibu mengajak mampir sebentar di TPI Kotaagung. siang itu hanya ada beberapa pedagang yang menjajakan ikan, lagi-lagi karena angin tenggara sedang bertiup. setelah memilih-milih ikan, sepupu-sepupu yang masih bocah ribut ingin main air di pantai. berhubung ombak nampak lebih bersahabat, mereka di ijinkan untuk main-main sebentar. sementara aku, adikku dan sepupu yang sudah gede memilih jalan-jalan sepanjang pantai, sambil mengagumi batu-batu warna-warni yang banyak terdapat dibibir pantai.

TPI Kotaagung, silakan pilih sendiri ikan segar yang ingin di beli. jangan lupa nawar harga

TPI Kotaagung, silakan pilih sendiri ikan segar yang ingin di beli. jangan lupa nawar harga

rame-rame nyemplung ke laut

rame-rame nyemplung ke laut

bebatuan warna-warni sepanjang pantai

bebatuan warna-warni sepanjang pantai

perahu-perahu nelayan di teluk semaka

perahu-perahu nelayan di teluk semaka

iyas adikku, berjalan menyusuri pantai. nyeker is the best. he..he.

iyas adikku, berjalan menyusuri pantai. nyeker is the best. he..he.

tidak berlama-lama berada disana, berhubung hari sudah makin sore kami segera meluncur pulang. kesan mendalam kami dapat selepas dari pantai yang kami kunjungi. rasa bersyukur luar biasa terhadap nikmat yang kami dapatkan hingga hari ini juga pujian tiada kira bagi Maha Pencipta Keindahan, serta prihatin yang mendalam ketika melihat realita saudara-saudara kita para nelayan. tersimpan harapan suatu saat bisa kembali ke kampung nelayan tadi dan melakukan sesuatu berguna yang berdampak langsung bagi mereka.

museum nasional transmigrasi

masih dalam rangkaian kepulanganku kerumah, tanpa rencana aku dan adikku akhirnya berkunjung ke Museum Nasional Transmigrasi yang terletak di Kabupaten Pesawaran kira-kira 20 Km dari Bandar Lampung. Sebenarnya mulanya aku dan adikku hendak ke Bandar Lampung untuk beberapa keperluan, saat memanti Bis di jalan raya pak de ku dan anaknya, sepupuku, lewat hendak ke bandar lampung juga. akhirnya kami ikut serta, dan ternyata ditengah jalan Pak de mampir sebentar ke Proyek yang tengah dikerjakannya untuk beberapa keperluan, maklum saja pak de bekerja untuk sebuah kontraktor di Lampung. dan ternyata Proyek yang dimaksud adalah Proyek Pembangunan Museum Nasional Transmigrasi. sejak beberapa tahun lalu proyek ini dimulai, bangunan Museumnya sendiri yang menyimpan diorama, foto dan beberapa artifak sudah jadi bahkan sudah di isi sekalipun belum lengkap. tapi secara keseluruhan, proyek tersebut masih jauh dari selesai jika dilihat dari master plan pembangunan Museum. fasilitas yang dibangun baru setengahnya saja, karenanya sekalipun Plang Nama museum sudah di pasang, serta koleksi sudah mualai dipajang, Museum ini belum dibuka untuk umum, bahkan belum diresmikan. menurut Pak De akan di resmikan tahun 2012. beruntung sekali siang itu ikut mampir bareng pak de, sekalipun belum di buka, aku, adikku, dan seorang sepupu di ijinkan berkeliling dan melihat-lihat. pertama kami masuk ke ruang pamer koleksi Museum, beberapa pengetahuan berharga kami dapat, bahwa wilayah trasnmigrasi di Indonesia begitu banyak Lampung adalah tempat transmigrasi pertama di Indonesia, wilayah lain yan juga menjadi tempat tujuan transmigrasi pertama adalah sumatera utara. beberapa wilayah tujuan transmigrasi  saat ini dalam tahap pembangunan menjadi kota mandiri.

museum nasional transmigrasi tampak samping

museum nasional transmigrasi tampak samping

koleksi foto-foto lama, muali dari kedatangan para transmigran, sampai pembukaan lahan transmigrasi

koleksi foto-foto lama, muali dari kedatangan para transmigran, sampai pembukaan lahan transmigrasi

kami juga sempat melihat bola besi raksasa berusia ratusan tahun yang digunakan untuk membuka hutan yang dipajang dihalaman tengah. kabarnya bola besi ini pernah hilang dan hampir di kilo di tukang besi bekas di jakarta. beruntung segera ditemukan kembali dan menjadi salah satu koleksi museum. dari tempat bola besi ini berada, pemandangan indah perbukitan nampak serupa lukisan alam. anginnya pun berhembus semilir mengusir panas akibat teriknya matahari. di kiri kanan museum, sawah milik penduduk ibarat permadani berwarna kuning.  didalam kawasan museum sendiri, masih terdapat sawah yang juga sudah menguning padinya dan akan tetap dipertahankan. kami juga berkeliling ke beberapa rumah adat berbagai daerah yang juga dihadirkan. beberapa tidak dikunci, jadi kami bebas keluar  masuk, koleksi baju adat dan peta wisata sudah dipajang disetiap rumah menjadi sumber pengetahuan berharga bagi kami. setelah urusan pak de selesai, segera kami beranjak pergi meninggalkan harapan museum nasional Transmigrasi segera selesai pembangunanya, sehingga bisa dijadikan sarana belajar dan rekreasi yang bermanfaat.

pose di depan bola besi

pose di depan bola besi

ada plaza di tengah lokasi museum. desainnya unik, disekeliling adalah tiruan rumah adat berbagai wilayah di Indonesia

ada plaza di tengah lokasi museum. dicat unik, disekeliling adalah tiruan rumah adat berbagai wilayah di Indonesia