rame-rame berhutang (boleh bayar pakai daun)

Posted on October 14, 2009 by rain-ger.
Categories: corat-coret.

hutang sepertinya sudah menjadi penyakit kronis bangsa ini. negara sudah jadi langganan lembaga pemberi donor, bukan untuk memberi pinjaman, tapi mengajukan pinjaman atau penundaan pembayaran hutang. dan ternyata karena kehidupannya dibiayai hutang oleh negara, banyak pejabat negara dan termasuk pegawai yang dibayar oleh negara (PNS), yang untuk mendukung kehidupannya juga mengandalkan hutang yang mereka ajukan dengan menggadaikan SK pegawainya. baru-baru ini Lampung Post menyoroti tentang fenomena hutang besar-besaran dengan agunan SK pengangkatan anggota DPRD Lampung beberapa hari setelah mereka dilantik. menurut pemberitaan lampung Post, bayak anggota DPRD yag baru dilantik engantri di bank Lampung untuk mengajukan pinjaman dengan aguan SK pengangkatan dengan jumlah pinjaman yang bervariasai antara puluhan hingga ratusan juta dengan lama cicilan 3 hingga 5 tahun. bisa dibayangkan bukan, selama masa bakti mereka sebagai anggota dewan, para wakil rakyat ini gajinya hanya akan berakhir di Bank sebagai cicilan hutang. saya sebagai rakyat sungguh khawatir para wakil rakyat ini tidak dapat bekerja optimal akibat hutang yang dimilikinya. apalagi kalau sampai uang gajinya habis hanya untuk mencicil hutang. jangan-jangan nanti saat menjabat anggota dewan, demi menutupi hutang-hutangnya, mereka akan dengan mudahnya menghabiskan uang rakyat, atau dengan santainya menerima suap. bukankah suatu survey pernah menyatakan bahwa lembaga legislatif dinilai sebagai lembaga terkorup di negeri ini. mungkin salah satu sebabnya adalah hutang besar-besaran yang dimiliki para anggota dewan ini. duh miris hati ini.

bukan hanya anggota dewan yang banyak menghabiskan gajinya untuk membayar hutang, PNS terutama di Lampung juga adalah abdi negara yang banyak terlilit hutang di Bank. tentu saja agunannya adalah SK pegawai mereka. saat ini bank-bank perkreditan rakyat menawarkan pinjaman yang menggiurkan bagi para pegawai negeri ini dengan berbagai kemudahan. berlombalah para pegawai ini untuk mendapatkan pinjaman dari bank, sekalipun harus merelakan seluruh gajinya dipotong hingga masa pensiun. fakta dilapangan yang banyak kulihat adalah fenomena hutang dikalangan PNS dinas pendidikan di lampung, alias guru. kecilnya gaji guru selalu dijadikan alasan untuk berhutang di Bank. setelah gaji guru dan kesejeahteraannya diperhatikan, ternyata mereka tetap terlilit hutang di bank. hingga membuat aku berkesimpulan sebesar apapun pun gaji guru dinaikkan, mereka akan tetap terlilit hutang.

bahkan masalah banyaknya PNS yang bergutang di Bank dengan menggadaikan SK pegawainya, sempat dijadikan jualan kampanye salah satu calon gubernur lampung beberapa waktu lalu. untuk menarik simpati para PNS, bahkan ia sempat melontarkan janji untuk “memberesi” hutang para PNS ini yang jumlahnya sangat fantastis itu jika diakumulasikan. entah dari mana dananya. dan ternyata dia tidak terpilih. jadilah janjinya itu tidak mungkin bisa ditagih.

mulanya mengetahui fakta bahwa besarnya hutang PNS Lampung di Bank mencapai 2,3 Triliun, dan fakta bahwa hanya sedikit sekali dari para PNS ini yang pulang membawa 50 % gajinya adalah fakta yang menyedihkan. hal ini bisa berati maca-macam bagiku. pertama para PNS ini bergaji kecil sehingga tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup sehingga harus berhutang. ke dua pemerintah kurang perhatian terhadap kesejahteraan abdi negara ini. ketiga, para PNS ini tidak pandai dalam mengelola keuangan sehingga harus terbelit hutang. yang ke empat gaya hidup PNS yang besar pasak dari pada tiang, dan terakhir adalah prilaku dan pandangam yang terbentuk akibat seragam yang berwarna sangat membosankan yang tiap hari mereka kenakan itu. Lampung yang penduduknya sebagian besar hidup dari bertani dan merupakan salah satu propinsi termiskin di negeri ini, menghasilkan cara pandang bahwa PNS, pegawai berseragam adalah orang yang semestinya hidup bercukupan dan tidak boleh terlihat kere. alias gengsi yang harus ditonjolkan selaku orang gajian. sekalipun kenyataanya untuk membiayai kehidupannya para PNS ini harus menggadaikan SK pegawainya dan terbelit hutang hingga pensiun.

untuk sebab pertama dan kedua, aku masih bisa bersimpati terhadap para PNS ini, tapi untuk sebab selanjutnya sunggah hilanglah simpatiku. sebab ke 3 dan selanjutnya sepertinya adalah sebab yang paling banyak aku temui di lapangan. mengadaikan SK hingga pensiun dan berhutang hingga pensiun hanya demi sebuah gengsi yang tidak perlu. berhutang demi menyelenggarkan pesta mewah pernikahan putranaya gaara dipandang sebagai orang berada, mengirimkan seserahan dalam jumlah fantastis hanya agar gengsinya disepan besan bisa terangkat padahal daidapat dari hutang, atau membeli aneka perhiasan yang sebenarnya hanya dijadikan simbol status hingga gajinya habis dipotong dana sini dan ditagih oleh para pemberi kredit. membeli kendaraan yang di indonesia tidak melulu soal fungsi tapi juga menggambarkan status dan kekayaan, hanya untuk memuaskan dan meneguhkan status mereka. aku sempat tidak habis pikir. oh my GOD.

sebenarnya bergutang sah-sah saja dilakukan siapa saja termasuk para anggota dewan dan PNS tadi, asalkan mampu membayarnya dan tidak mendholimi orang lain. sebagai anggota dewan mislanya, jangan sampai karena berhutang dalam julah besar, akhirnya malag sibuk cari “obyekan”, jadi calo berbagai proyek, terima suap sana sini, atau bahkan saking sibuknya mencari penghasilan diluar anggota dewan sering tidak optimal bertugas, mangkir rapat dan sidang. dampkanya bukan hanya dia pribadi saja, tapi juga rakyat yang diwakilinya yang telah memberikan kepercayaan padanya.

bagaimana dengan para PNS? fakta dilapangan menunjukkan bahwa besarnya hutang menimbulkan penurunan produktifitas pegawai. kebanyakan sibuk mencari penhasilan diluar PNS guna mencukupi kebutuhan atau menutup hutang yang jumlahnya tidak sedikit itu. biasanya pegawai yang menghabiskan gajinya sebagai cicilan hutang, sering tidak hadir dikantor. dampaknya, pelayanan terhadap masyarakat dapat terganggu. misalnya yang berlaku demikian adalah guru, berarti siswa yang diamantkan padanya untuk didik terpaksa terbengkalai pendidikannya, karena tidak ada yang mengajar maka jangan harap muncul generasi cerdas. jangan berharap akan ada kemajuan dan perbaikan bagi bangasa ini jika anak didik ditelantarkan.

no comments yet.



Leave a comment

Names and email addresses are required (email addresses aren't displayed), url's are optional.

Comments may contain the following xhtml tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>